Saturday 21 September 2013

Anak, Perilaku dan Media

Posted By: Unknown - 5:05 pm

Share

& Comment

Cartoon Content : War of Ideology
-Child and Mass Media-
 (written by : Wahyu Nur Rohim)

Anak merupakan calon penerus bangsa, maka, perlu di bentuk karakter dan akhlak mulia pada tiap diri anak Indonesia, agar kita menjadi bangsa yang besar suatu saat. Dewasa ini banyak orang tua yang sibuk dengan pekerjaannya, tak jarang, anak lebih sering bertemu televisi dibanding orang tuanya. Dalam perkembangannya anak membutuhkan sosok orang tua, selain untuk teman bermain, anak juga butuh sosok panutan dalam mengekspreikan dirinya.
Media, apa yang disuguhkan tidak semua berdampak positif bagi anak, banyak dampak negatif yang mengiringi. Di usia muda, mereka belum mampu membedakan mana yang boleh di tonton dan mana yang tidak. Tanpa pengawasan orang tua, tentu mereka akan menerima arus informasi televisi secara membabi buta.
Sebagaimana usia anak – anak, tayangan favorit tentu saja film kartun. Karena di dalamnya terdapat hiburan dan mampu membimbing anak untuk berimajinasi. Imajinasi yang kuat akan menghasilkan daya kreatifitas yang tinggi. Tetapi, bagaimana jika imajinasi tersebut berlebihan?
Film kartun memang membantu perkembangan imajinasi anak. Tetapi akan berlebihan dan berbahaya jika konten film berisi imajinasi yang bersifat irasional. Secara keseluruhan, tontonan diluar konteks rasionalitas manusia sangat tidak dianjurkan untuk dikonsumsi oleh anak – anak, karena mereka cenderung akan berfikir irasional pula.
Kartun merupakan sarana bagus jika dalam pemvisualisasiannya sesuai dengan realita. Misalkan domba yang berjalan dengan empat kaki dan memakan rumput, bukan domba yang berjalan dengan dua kaki dan memakan kue coklat. Sehingga, sebelum anak bertemu langsung dengan domba dia sudah tahu kalau domba merupakan hewan yang berjalan dengan empat kaki dan memakan rerumputan.
Berikut ulasan serial kartun beserta unsur – unsur negatif yang terkandung didalamnya.
 Doraemon
“Doraemon and GOD, Who Better?”
Siapa yang tidak tahu Doraemon, kucing ajaib sahabat Nobita yang bisa mengabulkan apapun yang diinginkannya. Kucing berjalan tegap asal jepang tersebut dapat menyediakan apapun di dalam kantong ajaib. Jadi, Doraemon memainkan peran luar biasa karena menyelesaikan permasalahan dengan kekuatan ajaib. Mudahnya, kalau meminta sesuatu ke Doraemon saja bisa, kenapa harus meminta kepada Tuhan?
Masa kanak – kanak adalah masa emas dimana social and observation learning berlangsung. Anak akan mudah meniru dan mengimitasi apa yang ia lihat di depan televisi, termasuk Nobita. Tokoh utama berwatak malas yang tidak menaati perintah ibunya dan hanya mau menyelesaikan permasalahannya secara instan melalui Doraemon dan kantong ajaibnya.
Kita harus tahu, ideologi atheis –tidak bertuhan– secara sangat halus telah disisipkan. Tujuan utama tidaklah menjadikan Doraemon sebagai tuhan, tetapi, untuk melemahkan kebutuhan anak terhadap Tuhan. Anak akan mudah mempercayai hal yang bersifat mitos dan susah untuk menerima realita dan kebenaran firman Tuhan. Jadi tidak untuk mengganti siapa tuhannya, tetapi melemahkan kedudukan Tuhan yang sebenarnya di mata anak – anak.
Tentu hal seperti ini mengingatkan kita terhadap suatu permainan antara guru dan murid SD saat zaman PKI masih eksis di tahun 60an. Dimana murid usia dini diajarkan faham komunis yang atheis, alias tak mengakui adanya Tuhan.
Guru berkata “anak-anak, coba tutup mata kalian. Terus kalian berdo’a kepada Tuhan.”.”Ya Tuhan ku, beri aku permen” Lalu murid melakukan apa yang diperintah oleh guru. Lalu guru mengatakan kembali “sekarang buka mata kalian”.
Kemudian mereka membuka mata dan melihat tangan mereka, ternyata kosong. Kemudian guru berujar “Sekarang kalian lakukan hal yang sama, tetapi jangan meminta ke Tuhan, memintalah kepada ibu guru”. Kemudian murid memejamkan mata dan berdoa’a.
“Aku pengen permen ibu guru”. Saat mata mereka masih terpejam, diam - diam guru menaruh permen di tangan mereka. Dan saat boleh membuka mata, mereka menemukan permen ditangan mereka.
Kemudian guru berkata, “ketika kalian meminta kepada Tuhan, tuhan ngasih permen nggak?” serentak anak – anak berkata “tidak”. Guru kembali berujar “ketika kalian minta ke ibu guru, kalian dapat permen nggak?”. Serentak mereka menjawab “iya”. Guru menjelaskan “jadi, Tuhan tidak ada di antara kita, tetapi, manusialah yang memenuhi kebutuhannya sendiri”.
Sekecil apapun itu, akan sangat berpengaruh kepada perkembangan psikologi anak. Hal tersebut tidak akan di sadari betul oleh anak itu sendiri. Jadi, kewajiban orang tua lah yang harus mengawasi dan membimbing segala hal yang di terima oleh anak. Serta memberikan penjelasan mengenai sesuatu hal yang ia lihat di televisi.
One Piece
“One Piece or One Porn?”
            One piece merupakan serial kartun yang mengisahkan Monkey D. Luffy yang bercita – cita ingin menguasai sebuah harta karun legendaris. Dalam perjalannya, Luffy dibantu oleh beberapa kawan perompaknya, salah satunya Nami, sosok wanita cantik, tinggi dan berbadan ideal laiknya Angelina Jolie. Celakanya, busana yang melekat ditubuhnya hanya rok pendek dan sebuah tanktop tipis, tak ubahnya orang berbikini.
Konten dewasa yang ditonton oleh anak – anak akan dipahami bahwa hal tersebut –berbikini– sebagai suatu hal yang wajar, bukan suatu hal tabu. Sekalipun ia hidup di lingkungan berbudaya adat ketimuran, yang menjunjung tinggi nilai – nilai norma kesopanan. Seperti halnya pakaian you can see tahun 80an, mereka masuk ke budaya kita dan kita maklumi. Apakah sekarang kita mau memaklumi bikini?
Ketika etika berpakaian tersebut kita maklumi, efek domino yang akan ditimbulkan juga akan sangat besar. Perilaku sex bebas, minuman keras dan narkoba menunggu untuk di maklumi. Tanpa di sadari, sifat sosial kita juga mulai bergeser, dari kolektifitas menuju individualitas.
Kembali ke pokok masalah, konten dewasa yang bukan konsumsi seharusnya di jauhkan dari anak – anak. Apalagi hal tersebut belangsung secara terus menerus, anak akan cenderung berfikir bahwa bikini adalah bagian dari kita. Begitu lah budaya kita sepemahaman mereka. Itu terjadi karena begitu intensif dan kontinu mereka lihat di layar kaca.
Masa emas perkembangan memori otak adalah masa kanak – kanak, terlebih terhadap visualisasi gambar, mereka cenderung cepat mengingat dan bertahan lama di dalam memori otak. Jika bikini tiap hari mereka saksikan, maka memori asusila akan terus melekat dan berdampak pada psikologi anak yang cenderung asusila.
Kasus pemerkosaan maupun prostitusi di bawah umur merupakan bentuk ekspresi diri secara nyata dari anak – anak yang telah teracuni konten pornografi. Fenomena sex bebas yang terjadi saat ini juga bermula dari pola fikir anak yang telah teracuni penyakit psikologi ini. Tentu kita semua tidak ingin memiliki generasi yang tidak lagi menjunjung tinggi nilai moral.
Crayon Shin Chan
“Bad Punishment”
Crayon Shin Chan merupakan salah satu dari sekian banyak serial kartun jepang yang menemani anak Indonesia, terutama di hari minggu dan hari libur. Karakter shincan di gambarkan sebagai seorang anak kecil yang nakal dan berfikir lebih dewasa dari usianya. Ia berkarakter lucu, tetapi ia suka menggoda wanita.  
Adegan – adegan kekerasan juga sering ditampilkan, contoh saat ibu menjitak kepala Shin Chan sampai benjol. Itu dilakukan setelah Shin Chan melakukan tindakan nakal. Adegan tersebut memang di gambarkan dengan lucu, sehingga mengundang gelak tawa. Sadar atau tidak, anak – anak telah dibimbing untuk menertawakan suatu tindakan kekerasan.
Apa yang anak lihat dalam kurun waktu yang lama dan secara kontinu, maka akan menjadi suatu pembiasaan dan pembenaran, walaupun perilaku tersebut salah. Jadi,  perkelahian yang di pertontonkan akan membuat anak cenderung berfikir untuk mewajarkan perkelahian itu sendiri. Efek yang lebih berbahaya ialah ketika anak kita cenderung menikmati dan membiarkan suatu tindakan kekerasan yang terjadi di depan matanya.
Ideologi kekerasan dan penertawaan terhadap suatu tindakan kekerasan merupakan salah satu efek buruk serial film kartun ini. Walau efek yang dirasakan tak secepat ketika menonton Smackdown, tapi ideologi ini akan melekat di dalam memori alam bawah sadar anak. Sebuah modal dalam pergerakan awal menuju pewajaran dan penikmatan tindakan kekerasan.
Kalau kita bijak, seharusnya menghukum anak tidak dengan pendekatan kekerasan. Tetapi nasihati dan berikanlah contoh perilaku taat hukum kepada anak, termasuk ajakan untuk menjauhi tindakan kekerasan. Karena kekerasan akan menimbulkan kekerasan lanjutan.
Yang perlu diketahui bahwa serial kartun Shin Chan ini telah dilarang di tonton oleh anak – anak di jepang. Karena kartun ini memang ditujukan untuk orang dewasa. Anehnya, di Indonesia film kartun ini malah ditayangkan, lebih parah lagi ditayangkan di waktu ideal. Baik hari minggu, maupun hari libur sekolah.

Naruto
“Myth, Morality, and Battle”
Kejadian unik saya alami saat saya beibadah, dari dalam masjid terdengar suara anak kecil sedikit berteriak, “Rasengaaaannnnn!!!”. Lalu terdengar, “bruuk (pelan)”. Dua anak kecil sedang menirukan pertempuran Naruto yang memiliki jurus Rasengan melawan Sasuke Uchida. Itulah anak kecil. Meniru apa yang ia lihat, walau itu hal irasional.
Setelah ulasan ketiga film kartun diatas (Doraemon, One Piece dan Shin Chan), terakhir coba kita melihat Naruto. Film anak yang mengandung unsur mitos, bahaya moral, serta kekerasan.
Pertama, film ini mengajak anak – anak untuk berimajinasi secara bebas. Bagaimana ditampilkan jurus – jurus supranatural serta kekuatan abadi pada serigala ekor Sembilan milik Naruto. Tak ubahnya penanaman faham takut terhadap pocong, kuntilanak, dan makhluk abstrak lainnya. Keduanya tidak bagus untuk perkembangan karakter dan ideology anak.
Kedua, bahaya moral. Di sini ditampilkan beberapa trik jahat yang dilakukan oleh musuh untuk merebut konoha, kota yang dihuni oleh ninja – ninja sakti. Busana masing – masing tokoh juga perlu diperhatikan, terutama tokoh wanitanya. Seperti Sakura Haruno, Tsunade, Ino Yamanaka, dan lainnya. Seperti yang diutarakan dalam bahasan serial one piece, perlu diperhatikan bagaimana mereka berbusana.
Ketiga, kekerasan. Ini yang terlihat paling menonjol, bagaimana pertarungan dipertontonkan di setiap episodenya. Pertarungan bertambah seru ketika jurus – jurus dengan kekuatan ajaib di visualisasikan dengan sangat baik sehingga menarik ditonton.
Paling parah ialah ketika pertarungan tersebut melibatkan senjata tajam, seperti saat pertarungan antara Hokage dan Orochimaru. Akhir pertempuran terlihat pedang menusuk bagian perut Hokage yang membuat ia meninggal. Dan fatalnya, adegan tersebut tidak di sensor sedikit pun, seutuhnya di telan oleh anak – anak.
 Peran serta orang tua
Lakukan pendampingan ketika anak sedang menonton tayangan di televisi. Berilah pemahaman tentang apa yang ia tonton. Pilih waktu dan tayangan yang sesuai dengan masanya. Masa anak – anak adalah masa di mana ia mencari sesosok tokoh idola, maka, berilah contoh perilaku yang baik kepada anak, agar figur orang tua lah yang menjadi idolanya.
Perbanyak waktu bersama dengan anak, gunakan waktu emas tersebut untuk mengajarkan nilai – nilai moral, agama dan nasionalisme secara langsung dan nyata, buat anak merasa nyaman dengan lingkungannya, sehingga mengurangi ketergantungan anak terhadap hiburan depan layar.
Peran serta pemerintah
Pemerintah yang memiliki wewenang mengatur rakyatnya harus bersikap lebih tegas lagi. Melalui komisi penyiaran Indonesia atau KPI, pemerintah harus tegas menindak media yang menampilkan serial kartun berbahaya. Bagaimana film Shin Chan yang berlabel dewasa di jepang, di Indonesia malah bebas di tayangkan.
Belajar lah dari Negara asal – usul media, Amerika Serikat. Mereka membentuk sebuah komisi yang bertugas untuk mengawasi media dan acara yang disiarkan. Komisi tersebut bernama National Comission on the Causes and Prevention of Violence yang diiringi dengan Scientific Advisory Committee on Television and Social Behavior. Jika investigasi menemukan sebuah acara di media sosial beresiko mencederai nilai – nilai moral, maka ia merekomendasikan kepada Bupati maupun Gubernur untuk di tindak lanjuti.
Good Cartoon
“Upin dan Ipin”
Salah satu serial kartun yang direkomendasikan ialah Upin & Ipin. Kartun simpel yang mengisahkan dua anak kembar beserta keluarga dan teman – temannya. Tokoh dan alur cerita pun di kemas ringan namun berbobot, karena memberikan informasi pendidikan yang begitu kuat dan merupakan representasi masyarakat melayu.
Terlebih, penggambaran dan alur cerita yang disuguhkan memang sebuah realita. Sebagaimana anak kecil yang bermain, diajarkan beribadah, sopan santun, nilai adat ketimuran. Jauh dari kesan imajinatif irasional macam kekuatan supranatural yang membahayakan iman dan melanggengkan mitos di benak anak.
Kehadiran tokoh Opah, nenek Upin dan Ipin yang selalu memberikan nasihat dan meluruskan suatu hal yang tidak sesuai dengan nilai masyarakat melayu. Bagi orang tua, mereka juga mendapatkan manfaat tersendiri, setidaknya mereka tahu bagaimana cara mendidik dan menasehati seusia anak – anak.
 Si Unyil
“Kartun merah putih”
Saat ini tentu kita sangat merindukan sosok kartun yang merepresentasikan budaya dan moral masyarakat Indonesia. Kartun yang menceritakan keraton, ondel – ondel dan senyum Indonesia. Berbusanakan kebaya, bercorakkan batik dan berirama gamelan. Untuk menanamkan nilai kecintaan anak terhadap bangsa dan budaya luhurnya.
Kita membutuhkan kartun semacam Si Unyil yang mampu merepresentasikan Indonesia seutuhnya. Bangsa yang terlambangkan burung garuda, yang seluas sabang sampai merauke, yang berkulit hitam, putih, sampai berambut lurus dan kriting. Bangsa yang kaya darat dan lautnya, bangsa yang memiliki harapan untuk besar dan berkuasa di masa mendatang. Bukan hanya harapan penulis, tetapi harapan setiap manusia yang darah dan tulangnya berwarna merah dan putih.


About Unknown

Program Studi Teknik Geodesi Universitas Diponegoro Semarang. Lembaga Pers Mahasiswa Momentum. Rohis Athlas dan INSANI. Sherpa Mapala. Kemendagri BEM KM Undip. Geodet Berbagi. Turun Tangan Semarang. Orang Jawa. Survei Topografi.

0 comments:

Copyright © 2013 Ghostwriter™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.