Saturday 22 February 2014

Jujur, Lima Huruf Sejuta Makna

Posted By: Unknown - 9:17 pm

Share

& Comment

Di hari sabtu pagi yang cukup cerah, aku duduk di sebuah bangku setinggi lutut. Kursi tersebut terbuat dari besi ringan dan beralaskan empuk berwarna hitam. Kursi itu dilengkapi dengan sebuah alas untuk menulis, teksturnya halus karena dilapisi triplek berwarna putih.

Aku duduk agak di belakang, empat dari belakang dan dua dari kiri. Samping kiriku duduk Ener, sebelah kanan Tyo, depan ada Vauzul dan belakang ada Novita –kalau nggak salah–. Kita sedang mengikuti ujian mata kuliah Geofis saat itu.

Kurasakan dahiku mulai berkeringat, perasaan menjadi gusar, sedang hatiku bergejolak tajam. Setan dan malaikat tak ubah seorang penjual yang menjajahkan barang dagangan disampingku. Semua hal menyenangkan dari kebaikan dan keburukan sudah terbayang di benakku.

Malaikat berkata, “Jangan kamu bertanya. Jujur itu lebih gentle –kece– dari pada curang,”

Iblis tak mau kalah, dengan sigap ia berbalas kata, “Kalau sedikit mah gapapa, daripada kamu nanti dapet nilai jelek! Mau?”. Kurasakan syaraf menuntunku membelokkan mata ke kanan dan ke kiri.

“Jangan lah tun, di peraturan kan nggak dibolehkan bekerja sama, walau kamu sudah tidak lagi menyontek, tapi bekerjasama dalam suatu “kejahatan” kan tidak baik juga, masuk kategori dosa malahan.” Malaikat kembali menawarkan janji kebaikan.

Iblis mengebiri dan mempertegas “Aduuh, nggak papa lah, kan nggak sering – sering juga. Dari pada kamu nanti dapat D!”

Segera aku putuskan, aku memang tak pernah lagi menyontek, tapi godaan untuk sekedar memasang telinga berharap ada yang berbicara sedikit keras perihal jawaban tak mampu aku elak. Sesekali mata melirik ke kanan, kiri dan samping, walau tak bertanya jawaban secara langsung, tapi niat tetap ada.

Beberapa waktu kemudian, nilai D muncul di kolom nilai hasil studi semester tujuh. Beberapa hal menjadi catatan tersendiri dalam hidupku. Pertama, jika kita mau berkeringat saat persiapan, tentu kita tak perlu berdarah-darah saat pertandingan. Kedua, sekecil apapun, keburukan pasti akan kembali kepada pelakunya. Ketiga, kejujuran adalah sebuah nilai yang teramat mahal, bukan hanya karena efek terhadap pelakunya, tetapi karena sangat sukar juga diperolehnya. Keempat, penyesalan memang menyakitkan.

Perempuan Tanpa Nominal

Bicara kejujuran membawa ingatan saya kembali ke sebuah memori hampir empat tahun silam. Waktu yang cukup lama untuk memahami suatu perkara, namun selamanya akan tetap terpatri dalam sanubari. Saat itu kami sedang merayakan kelulusan ujian nasional SMA N 3 Boyolali, sekolah masa remaja saya. Namun masih ada yang kurang kami rasakan, saat itu, ada satu teman kami yang belum beruntung (baca: tidak lulus) dan harus mengikuti ujian nasional susulan.

Kelas IPA II sebagai kelas murid berpredikat 1, 2 dan 3 besar tak seramai kelas lainnya. Kita tak mungkin bersuka ria tatkala masih ada teman yang masih tertinggal. Semangat dan do’a terus kita berikan, walau sekadar untaian kata semangat kita untuk dia yang masih harus berjuang lagi.

Kabar burung yang mengemuka mengatakan, bahwa ia belum bisa lulus karena saat ujian sedang berlangsung, saat semua teman menoleh kesemua arah, berbisik, menunggu sms jawaban dari bocoran soal, entah mereka yang masuk kategori pemalas atau rajin sekalipun, hal berbeda justru ia lakukan. Tak sekalipun ia bergeming memalingkan muka dari lembar soal dan jawaban miliknya.

Ia adalah cucu dari guru agama di SMA kami. Tangan hangat beliau-lah yang mendidiknya menjadi pribadi yang taat, terutama taat kepada Tuhan yang maha Esa, dan semua itu tercermin dalam ketaatannya kepada orang tua, guru, bahkan terhadap peraturan hukum yang berlaku. Jika memang di dalam ujian dilarang bekerjasama, tak sekalipun ia melanggarnya.

Walau semua yang ia lakukan berbuntut panjang, ia tetap memilih jalan kejujuran, walau ia sendirian, ia tak mengkuti semua orang, walau terkesan “aneh”. Saya saat itupun berfikiran sama, “aneh”. Perlu sekedar pemahaman nilai kebaikan agama untuk melakukannya. Mereka yang berani melakukannya bukan hanya membaca, namun memahami dan menanamkannya dengan hati – hati di tiap langkah yang ia tapaki.
Sungguh wanita “aneh” yang banyak dicari, dipuji, dan dikagumi, bukan oleh kebanyakan manusia saat ini, tetapi oleh Dia dan manusia yang banyak berbuat kebaikan. 

Ia termasuk sebaik – baik golongan wanita. Do’a untuk dirinya, semoga menjadi jauh lebih baik lagi saat ini, dipertemukan dengan penunjuk jalan yang baik pula, walau sudah jarang berjumpa, namun teman selamanya teman, kalau berjumpa Alhamdulillah, semoga kita masih bisa saling berucap “salam”, baik di surga dunia maupun akhirat. Aamiin.




     

About Unknown

Program Studi Teknik Geodesi Universitas Diponegoro Semarang. Lembaga Pers Mahasiswa Momentum. Rohis Athlas dan INSANI. Sherpa Mapala. Kemendagri BEM KM Undip. Geodet Berbagi. Turun Tangan Semarang. Orang Jawa. Survei Topografi.

0 comments:

Copyright © 2013 Ghostwriter™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.