Friday 3 January 2014

Geofis is killing me

Posted By: Unknown - 10:05 pm

Share

& Comment

Pak BDY beraksi dengan Geofis kebanggaannya
Geodesi fisis, awalnya aku tak merasakan suatu perbedaan, sama seperti mata kuliah geodesi lainnya. Iya, nggak ada yang aneh. Walau geng rajin bilang kalau materi ini agak susah ­–berdasar pengalaman 2009–, tapi seperti biasa, aku percaya diri aja.

Dosen kelas Geofis namanya Bambang Dharmo Yuwono, kita manggilnya BDY, biar hemat energi dan oksigen, efeknya mampu mengurangi pencemaran udara kampus yang mulai menipis, karena banyak nyimpen angkatan tua, semoga mereka cepat diberi kemudahan oleh Tuhan, Aamiin. Pak BDY memulai kuliah dengan enak, walau dia sering telat masuk kelas.

Makin sering kuliah, perlahan  kurasakan suatu keanehan, entah aku saja atau juga dirasakan oleh temen satu kelas. Satu yang pasti tak merasakannya, si Ayu. Dia cewek. Cantik. Pinter. Kurang apa coba? Cuma kurang satu, kurang memahami bagaimana perasaan kami yang tak mengerti materi kuliah –ekpresi raditya dika sedih–. Apa Ayu merasakan betapa sesaknya dada saat pak BDY mulai beraksi di depan papan tulis? mungkin hanya kami.

Andaikan Ayu merasakan, ketika satu kelas di tanya Undulasi, hanya Ayu yang bisa jawab. Owh God. Bagaimana bisa satu kelas membisu, atau pura-pura mati?. Tak berdaya menghadapi serangan bertubi materi gravitasi dan gaya berat relative. Andai Ayu tau –nyanyi–.

Ada pengalaman menarik, sore di hari jum’at, usai ujian penilaian tanah, kita –aku dan pakaya– sholat di masjid MPD sebelum ke kos Ayu. Kita berharap ada sedikit pencerahan. Iya, saat itu dunia kami gelap, karena Geofis.

Berdua kami naik motor Xeon warna orange mirip motor tukang pos yang lagi nganter surat. Motornya masih kotor, laiknya yang  punya. Uda dunia-nya gelap, kotor pula, kasian sekali yang punya motor. Demi geofis, kita telah bulat tekat ke kos Ayu.

Sampai kami di kos Ayu di belakang SPBU ngesrep. 20 Menit kami harus nunggu Ayu dibangunin, shalat, dan dandan. Sejenak, Ayu muncul dari atas tangga. Pakaya dan Ayu memulai diskusi. Bagai orang bego, walau kurang pinter dan mengerti materi, aku coba mengikuti apa yang mereka diskusikan.

Walau aku menatap mata ke arah mereka berdua, tak satupun mereka memperhatikanku, mereka asyik berdiskusi, aku di acuhkan. Resiko menjadi orang bodoh, lebih tepatnya malas belajar. Pesen buat kalian, jadi-lah orang pinter, gampang caranya, jadilah orang rajin. Hanya saja susah ngejalaninnya. Bisa kalau ada niat.

Satu hal luar biasa terjadi, dengan lancar Ayu menjelaskan panjang lebar kepada kami bagaimana memperoleh undulasi tertinggi dan terendah. Baru tadi aku mengenal simbol psi, plm dan lainnya. Hebatnya, tanpa teks maupun buku, Ayu sanggup menuliskan rumus N yang panjang. Gimana bisa? Hanya Ayu dan Allah yang tahu.

Untung, diakhir ngobrol Ayu menawarkan soal UTS kemaren beserta jawaban soalnya kepadaku. Rasanya itu, mau terbang ­–Alay– ke udara bebas. Hahaha. Kata Ayu materi UAS sama dengan UTS kemaren. Jadilah aku pulang kos membawa fotokopi sedikit catatan, soal dan jawaban soal UTS dari Ayu. Si ratu akademik.

Pelajarannya, jangan terlalu takut pada suatu permasalahan. Minta petunjuk kepada Tuhan. Lakukan suatu hal yang masuk akal, seperti minta di ajarin atau belajar bareng Ayu. Ilmu dan solusi akan menyusul di belakang. Akhirnya kita menuai kebaikan. Kayaknya sih gitu, sekian. 

Makasih banyak Ayuuu.


About Unknown

Program Studi Teknik Geodesi Universitas Diponegoro Semarang. Lembaga Pers Mahasiswa Momentum. Rohis Athlas dan INSANI. Sherpa Mapala. Kemendagri BEM KM Undip. Geodet Berbagi. Turun Tangan Semarang. Orang Jawa. Survei Topografi.

0 comments:

Copyright © 2013 Ghostwriter™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.