*

*
Powered by Blogger.
Showing posts with label Buku. Show all posts
Showing posts with label Buku. Show all posts

Sunday, 9 March 2014

Hafalan Shalat Delisa

Posted By: Unknown - 9:18 pm
Bagi kalian yang sangat rindu akan sentuhan Ilahi, tak salah jika membaca buku Hafalan Shalat Delisa. Bahasa sastrawi nan indah dipadu padan untaian nilai religi penuh makna. Nama Tere Liye tak setenar ustadz Yusuf Mansur, namun kedalaman makna tiap fase cerita mengandaikan pembaca bahwa penulis sama halnya juru dakwah. Sastrawi nan menyentuh.

Cerita terpusat pada sang tokoh utama, seorang anak kecil umur 6 tahun dan hafalan shalatnya. Namanya Alisa Delisa, anak bungsu 4 bersaudara keluarga Abi Usman dan Ummi Salamah. Latar cerita berada disebuah kota pesisir utara laut Sumatra bernama Lhok Nga. Kota dengan sejuta keindahan, semilir angin berhembus disore hari, sebuah lapangan sepakbola dibibir pantai pasir putih, tempat delisa bermain sepakbola dengan teman laki-lakinya.

Delisa memiliki kakak yang menyukai sastra, namanya Alisa Fatimah. Setelah Cut Fatimah, lahir dua kakak kembar Delisa, yaitu Alisa Zahra dan Alisa Aisyah. Walau kembar namun sangat berbeda peringai, Cut Zahra orangnya pendiam namun kaya ide, sedang Cut Aisyah orangnya usil, tak ada hari tanpa menjahili Delisa. Sampai sampai Delisa mengadu ke Ummi ketika kak Aisyah tak mau berhenti menggoda adiknya.

Sebuah kalung emas dengan huruf D untuk Delisa. Menjadi hadiah dari Ummi jika Delisa mampu menyelesaikan hafalan shalat dan tidak kebalik-balik seperti beberapa waktu lalu. Delisa dengan penuh semangat menghafal hingga tiba saatnya ia diuji oleh ibu guru Nur, apakah Delisa mampu menghafal bacaan atau tidak. Pada bagian ini lah yang membuat saya mencucurkan air mata, Tere Liye menceritakan kisah nyata Delisa ini dengan sangat detail dan penuh penghayatan nurani.

Bagaimana tiap gerakan dan bacaan shalat Delisa bertepatan dengan gempa, air laut surut sampai gelombang air bah setinggi 10 meter dari laut Lhok Nga memporak-poranda semua yang ada didepannya. Hingga Delisa kehilangan semuanya, Ummi, Cut Fatimah, Cut Zahra, Cut Aisyah, Tiur –teman akrab Delisa–, Ummi Tiur, dan sebagian besar penduduk Lhok Nga lainnya. Delisa juga harus berjuang dengan maut dan harus rela kehilangan kaki kiri. Delisa saat itu dirawat di rumah sakit kapal Induk U.S. John F. Kennedy, setelah seminggu lamanya tergeletak bersama rongsokan dan mayat Tiur yang mulai membusuk. Menyengat dan menyayat hati Delisa, namun Delisa tak mampu bergerak.

Hingga akhirnya penduduk Lhok Nga mulai berbenah, bantuan dari segala penjuru dunia berdatangan. Delisa bisa bertemu Abi yang saat kejadian sedang bekerja di kapal tanker. Namun Abi membawa kabar duka kesekian kalinya, mayat ketiga kakaknya telah ditemukan, namun tidak dengan Ummi. Ummi tidak diketahui dimana.  

Usai kejadian itu, Delisa mendadak lupa ingatan bacaan shalatnya. Hingga ia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengingatnya kembali, namun susah. Hingga cahaya kasih sayang pemilik bumi, langit dan yang ada diantara keduanya menyentuh hati suci Delisa. Ia bermimpi sedang bermain di dalam suatu taman indah, ia mengejar kupu-kupu berwarna cantik dan bercahaya.

Delisa melewati jembatan, dan ketika melihat kebawah, masha Allah, sungai itu bewarna seperti susu. Disana Delisa bertemu Ummi, Cut Fatimah, Cut Zahra, Cut Aisyah, Tiur, Ummi Tiur, kakak-kakak Tiur, Ibu guru Nur, dan lainnya. Delisa sangat senang. Disana ramai sekali. Sedang Delisa kesepian, hanya bersama Abi. Kemudian Delisa meminta sesuatu kepada Ummi, ia minta tinggal bersama mereka, namun Ummi dengan tegas menolak dan berkata,

“Delisa harus menyelesaikannya.”

“menyelesaikan apa Ummi?” tanya Delisa bingung.

“kamu harus menyelesaikan hafalan bacaan shalat dulu sayang. Baru Delisa boleh menemui Ummi jika saatnya sudah tiba.”

Tak lama kemudian Delisa terbangun dan menggiatkan kembali hafalan bacaan shalatnya. Hingga ia berhasil menghafalnya dengan baik dan benar, tidak terbolak balik. Saat sholat ashar itu tiba. Delisa yang dulu hampir sempurna shalat namun Allah tak mengijinkan, kini tak ada lagi gelombang air bah seperti hari Ahad, 26 Desember 2004, kini Lhok Nga sudah tenang, dan Delisa dapat shalat sujud dengan sempurna kepada Allah untuk pertama kalinya.

Delisa hafal semuanya, mulai dari takbiratul ihram sampai mengucapkan salam. Dan malaikat yang turun dan hendak menuju langit gema menjawab salam tulus Delisa. Bukit Lhok Nga bergetar pelan dan dedaunan ikut mendayung menjawab salam Delisa. Ya Allah. Akhirnya Delisa bisa hafal shalat dengan sempurna.

Sore itu cahaya senja sudah nampak di cakrawala langit Lhok Nga. Delisa menuju ke sebuah sungai kecil untuk cuci tangan, ia dan teman-teman nya usai bermain pasir. Hingga seekor burung belibis memercikkan air ke wajah cantik Delisa. Delisa kemudian melihat burung tersebut terbang dan hinggap di semak belukar. Semak itu ditumbuhi bunga berwarna merah. Indah sekali. Hingga Delisa melihat sebuah cahaya kuning menyilau matanya.

Delisa mendekat dan mendadak hati Delisa gentar sekali. Bukankah itu kalung dengan huruf D. D untuk Delisa. Namun bukan itu yang membuat delisa tak berdaya. Kalung itu bukan tersangkut di dahan ataupun dedaunan, namun tersangkut pada sebuah tangan. Tangan yang sudah menjadi kerangka, putih sekali warnanya. Utuh, Bersandarkan semak belukar tersebut.

“U-m-m-i”

Delisa akhirnya menemukan Ummi, beberapa bulan setelah Tsunami menerjang serambi mekah, Aceh.
Banyak kisah dan pelajaran yang dikisahkan oleh penulis. Asik dibaca orang dewasa walau alur cerita dan bahasa yang digunakan lebih kekanak-kanakan. Sangat cocok dibaca oleh kalian yang bakal menjadi seorang Ummi, maupun saat ini, saat kalian masih memiliki Ummi. Betapa kita harus berbakti pada beliau. Potret keluarga islami sangat nampak dalam kandungan cerita Hafalan Shalat Delisa. Bagaimana seorang Ummi membesarkan keempat malaikat cantiknya.

Berikut salah satu penggalan cerita yang akan selalu berkesan dalam hati saya

***
Halaman 52-53

Delisa duduk bertelekan lutut di belakang Ummi.
Kemudian pelan memeluk leher Ummi yang duduk berdzikir di depannya.

“ada apa sayang?” Ummi menghentikan Dzikirnya.

Menoleh menatap muka Delisa yang ada di bahu kanannya, tersenyum.
Bibir Delisa menyimpul manyun. Matanya sedang menatap beningnya bola mata Ummi. Berbisik.

“U-m-m-I…”

“Ya, ada apa sayang?”

“Delisa,… D-e-l-i-s-a cinta Ummi…. Delisa c-i-n-t-a Ummi karena Allah” Ia pelan sekali mengatakan itu.

Kalah oleh desau angina pagi Lhok Nga yang menyelisik kisi-kisi kamar tengah. 
Tetapi suara itu bertenaga. Amat menggentarkan. Terdengar jelas di telinga kanan Ummi. Kalimat yang bisa meruntuhkan tembok hati.

Ummi salamah terpana. Ya Allah, kalimat itu sungguh indah. Ya Allah …. Kalimat itu membuat hatinya meleleh seketika. ‘Delisa cinta Ummi karena Allah’. ….. Tasbih Ummi terlepas. Matanya berkaca-kaca. Ya Allah, apa yang barusan dikatakan bungsunya? Ya Allah darimana Delisa dapat ide untuk mengatakan kalimat seindah itu. Tangan Ummi sudah gemetar menjulur merengkuh tubuh Delisa.

“U-m-m-i juga cinta sekali Delisa… -U-m-m-i c-i-n-t-a Delisa karena Allah!” Ummi Salamah terisak memeluk bungsunya.

Delisa asli, cantik beneran, hehe

Abu Bakar Al-Shiddiq

Posted By: Unknown - 2:55 pm
“Abu Bakar, sahabat dekat Rasulallah yang paling setia sekaligus paling banyak mengikuti ajarannya. Laki-laki yang begitu rendah hati ini, begitu mudah terharu, begitu halus perasaannya, begitu gemar bergaul dengan orang-orang papa—dalam dirinya terpendam suatu kekuatan yang amat dahsyat”

Begitu kalimat yang saya baca di cover depan buku kisah hidup Abu Bakar Al-Shiddiq terbitan penerbit Zaman, karya Dr. Musthafa Murad. Kalimat diatas merupakan salah satu kesan dari seorang penulis "Sejarah Hidup Muhammad", Muhammad Husain Haikal. Buku setebal 312 halaman menyajikan kisah sosok khalifah pertama, mulai dari awal keimanan hingga ia wafat.

Rahimahullah Abu Bakar Al-Shiddiq merupakan satu satunya sahabat Rasulallah yang disebut oleh Allah  dalam Al Qur’an dengan kata sahabat. Abu Bakar adalah orang kedua bersama Rasulallah didalam gua. Sebagaimana firman Allah dalam surah At-Taubah ayat 40 berikut,

“jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), sesungguhnya Allah telah menolongnya, (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Makkah); sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya,”Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”…..”

Peristiwa tersebut terjadi ketika Rasulallah diperintah oleh Allah berhijrah ke Madinah untuk menjumpai kaum Anshor yang bersuka hati menerima risalah nubuwat. Hijrah kali ini hanya dilakukan oleh Rasul dan Abu Bakar. Ketika mereka dikejar oleh kaum kafir Quraish, Abu bakar dan Rasul bersembunyi didalam gua dan disanalah pertolongan Allah datang.

Dengan kuasa Allah, pintu gua sempit tersebut telah ditempati oleh sarang laba-laba walau hanya beberapa saat lalu dilalui oleh Rasul dan Abu Bakar. Keringat dingin membasahi dahi Abu Bakar, ketika melihat kaki orang-orang Quraish dari dalam gua, dalam hati ia berkata, “andai mereka –kaum Quraish– melihat dari arah kakinya, tentu mereka akan melihat kami”. Tetapi Allah memalingkan kaum Quraish dengan membisikkan “tak mungkin ada orang jika dimulut gua ditumbuhi sarang laba-laba”

Gelar Al-Shiddiq (Jujur dan Membenarkan) sangat pantas ia sandang. Sehari setelah Rasulallah Isra’ Mi’raj, beliau mengumumkannya kepada segenap kaum muslimin dan penduduk Quraish di sekitar ka’bah. Rasul berkata, “semalam aku hijrah ke masjid Al Aqsa dan mi’raj menjumpai Allah”. Ketika orang kafir mencemooh beliau, dan sebagian orang muslim masih mempertanyakan kebenarannya, Abu Bakar menjadi yang pertama membenarkan kabar Rasul tersebut.

Ketika orang muslim –yang lemah iman– bertanya kepada Abu Bakar, “Dan kau percaya bahwa ia (Rasulallah) pergi ke Syam (palestina) dalam waktu satu malam kemudian balik kembali ke Makkah pagi harinya?” Abu Bakar tegas menjawab, “Benar. Aku percaya, bahkan jika ia mengatakan yang lebih jauh sekalipun. Aku percaya bahwa ia mendapatkan kabar dari langit di pagi maupun sore hari.”

Kedudukan mulia tersebut menegaskan kepantasan seorang Abu Bakar ketika diamanahi kepemimpinan kaum muslimin sepeninggalan Rasulallah. Tak ada seorang pun (sahabat) yang lebih memahami kandungan Al Qur’an melebihi Abu Bakar. Kekerabatan Abu Bakar dan Rasulallah –mertua, setelah Rasul menikahi Aisyah, putri Abu Bakar– menegaskan kedudukan mulianya dikalangan keluarga Rasul.

Meneruskan kepemimpinan kaum muslimin dirasa berat oleh Abu Bakar. Bagaimana tidak. Beberapa hari usai pembaiatan, gerakan murtad secara bergelombang muncul dimana-mana. Hingga memunculkan beberapa nabi palsu seperti Musailammah Al Khazab, Thulaihah, Sajah, dan lainnya. Beberapa kabilah juga menolak membayar zakat, dengan dalih zakat hanya berlaku ketika Rasulallah masih hidup.

Khalifah segera berunding dengan sahabat untuk menentukan sikap, diantara mereka ada Umar Bin Khattab, Utsman bin Affan, dan sahabat lainnya. Dengan tegas Khalifah akan menumpas segala bentuk pemberontakan, terutama nabi palsu dan pengingkaran zakat. Sesuai dengan firman Allah, Rasulallah adalah penutup risalah kenabian, serta zakat yang tak bisa dipisahkan dari sholat sebagai rukun islam. Tanpa zakat, berarti bukan islam. Abu Bakar tegas dalam hal aqidah -pokok agama-.

Beberapa panglima perang kaum muslimin beserta pasukannya diperintah oleh khalifah untuk menumpas segala bentuk pemberontakan. Hingga muncul nama-nama seperti Khalid bin Walid –syaifullah (pedang Allah) –, Sa’ad bin Abi Waqqas, Amr bin Ash, Usamah bin Zaid, Ikrimah bin Abu Jahl, Syurahbil bin Hasanah, dan lainnya.

Berkat kegigihan mereka stabilitas politik jazirah arab mampu dikendalikan. Terlebih pencapaian gemilang Khalid bin Walid yang berhasil menundukkan sebagian wilayah Persia (Iran) dan Syam (Syria). Hingga membuat raja Persia, Kisra dan raja Byzantium (Romawi Timur), Heraklius getar getir. Kaum muslimin mulai mendapat banyak perhatian dari kedua negara Adidaya saat itu (ibarat Amerika dan Rusia).

***

Salah satu momen paling penting ialah saat perang Yamamah. Saat itu banyak dari kalangan sahabat Hafidz Qur’an gugur sebagai syuhada menghadap Rab semesta alam. Kegelisahan merundung kaum muslimin. Takut jika makin banyak sahabat penghafal Al Qura’an menyusul gugur di medan perang. Atas usulan Umar bin Khattab, Khalifah memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mengumpulkan ayat-ayat Al Qur’an yang tertulis dalam tulang, batu dan lainnya, serta dilengkapi dengan hafalan beberapa sahabat, akhirnya mushaf pertama mampu diselesaikan oleh Zaid.

Selain mushaf, beliau juga mengenalkan sistim Baitul Mal, atau kas negara. Untuk kemudian dibagi secara adil kepada seluruh penduduk kaum muslimin. Harta shadaqah, zakat, maupun rampasan perang –ghanimah– semuanya masuk ke Baitul Mal. Karena jumlah penduduk muslimin yang belum banyak, dan akhlak mulia sahabat nabi yang tidak cinta kepada harta dunia, sehingga belum ada pencatatan mengenai Baitul Mal. Pencatatan dilakukan dimasa kekhalifahan Umar bin Khattab.

***
Wanita yang paling dekat dengan Rasul adalah Aisyah, sedang dari golongan laki-laki adalah Abu Bakar. Sang sahabat akhirnya wafat pada tanggal 8 Jumadhil Akhir tahun 13 Hijriah, dua tahun setelah Rasul. Abu Bakar wafat di Madinah, di ibukota kaum muslimin dan dimakamkan berdampingan dengan makam Rasulallah.

Penguasa yang hanya memiliki harta seorang budak, seekor unta tua, dan selembar tikar, akhirnya menjumpai sahabat tercinta.

“Inilah umat Muhammad, kelompok manusia yang paling awal memasuki surga.
Dan inilah Abu Bakar, manusia pertama diantara mereka yang memasuki surga”

Saat mendengar kabar kematian sang khalifah, Ali bin Abu Thalib berlari cepat dan menghampiri kerumunan sahabat dirumah Abu Bakar. Ia berkata,

“…engkau adalah orang yang ringkih tubuhnya, tetapi kokoh menegakkan perintah Allah. Jiwamu merunduk tawwaduk, tetapi derajatmu agung dan mulia disisi Allah, terhormat ditengah-tengah manusia, dan mulia dalam jiwa mereka. Engkau tak pernah meremehkan siapapun dan tak pernah mengatakan keburukan tentang siapa pun. Di sisimu, orang yang lemah dan terhina adalah orang yang kuat hingga engkau memenuhi hak-haknya. Sama saja di sisimu, baik orang yang dekat maupun yang jauh. Orang paling dekat kepadamu adalah yang paling taat kepada Allah dan paling bertaqwa…” hingga selesai.

Kemudian seluruh sahabat berkata, “engkau benar, wahai menantu Rasullah.




Sunday, 23 February 2014

Ayah... (Buya Hamka)

Posted By: Unknown - 10:11 am
Sebuah buku memoar seorang negarawan, ulama, sastrawan, dan ayah bagi seorang Irfan Hamka, anak keempat Buya. Irfan –penulis– saat ini berusia 70 tahun, sedang sang ayah sudah meninggal ditahun 1981 lalu. Walau sudah tiada, karya beliau masih mampu kita rasakan sampai saat ini. Beberapa buku Buya telah dicetak ulang dan beberapa bahkan telah diangkat kelayar kaca, seperti Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk.

Dia bukan hanya seorang sastrawan, dia juga seorang ulama terhormat di tanah Minang pada khususnya, dan Indonesia pada umumnya. Saat dipenjara selama 2 tahun 4 bulan oleh Soekarno, ia menyelesaikan buku Tafsir Al Qur’an Al Azhar sebanyak 30 Juz. Di kampung halamannya ia juga dikenal sebagai seorang pesilat handal.

Dia juga seorang cendikiawan, mendapatkan gelar Doktor Honouris dari Universitas Al Azhar Mesir, Buya juga menjadi ketua MUI pertama, bahkan selama dua periode. Mantan petinggi partai Masyumi era orde lama ini juga pernah menjabat sebagai pendiri dan pengasuh yayasan pesantren Indonesia –YPI– yang melahirkan sekolah islam terpadu Al Azhar.

Nama kecil Buya –kyai/ulama dalam budaya Minang– Hamka adalah Abdul Malik Karim Amrullah. Beliau lahir disebuah desa di Maninjau, Bukittinggi dari seorang ayah bernama Syech DR. Abdul Karim Amrullah, seorang ulama Minang dan Ibu bernama Siti Shafiah. Beliau menghabiskan masa kecil dilingkungan terhormat dan penuh akan nilai-nilai agama islam.

Buya muda tidak mampu menuntaskan sekolah rakyat dan pesantren dengan baik, ia lebih suka menghabiskan waktu dengan membaca dan belajar berbagai hal secara otodidak. Hingga ia merasa kurang akan ilmu yang dimilikinya dan meminta izin kepada orang tua untuk menuntut ilmu ke tanah jawa di usia yang masih muda.

Beberapa waktu setelah ia lama tinggal di jawa, seorang utusan dari Maninjau meminta Buya untuk pulang kampung dan mengamalkan filsafat Muhammadiyah yang telah ia dapatkan kepada masyarakat Minang. Tak berapa lama kemudian, Buya pulang dan memutuskan untuk menikahi seorang gadis cantik nan bersahaja bernama Siti Raham Rasul binti Rasul St. Redjo Endah, seorang ulama Minang.

Jadilah Buya seorang anak ulama yang menikahi seorang putri ulama Minang pula. Diusia 19 tahun ia menikah dan Siti Raham berusia 16 tahun, suatu hal wajar di saat Belanda masih bercokol. Setelah berkeluarga, Buya muda memutuskan menunaikan haji dan menuntut ilmu untuk beberapa waktu di Arab Saudi. Setelah kembali, jadilah Buya seorang pandai agama, silat dan berdakwah.

Kemampuannya tersebut membawa Buya sebagai pemimpin perang gerilya diakhir tahun 1940an. Ia mampu menghimpun kekuatan masyarakat Minang untuk mematikan kekejaman tentara Belanda. Selama perang geriliya, Buya keluar masuk hutan Sumatra yang masih perawan, tak jarang ia jumpai suara Harimau dan ditempeli lintah ganas. Semua itu Buya lakukan demi satu tujuan, belanda keluar dari bumi Indonesia.

Kabar mundurnya Belanda dan kalahnya Jepang oleh sekutu beberapa waktu kemudian memberikan senyum lebar seorang Buya. Apa yang ia lakukan ternyata berbuah manis, hingga akhirnya Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Beberapa saat kemudian, Buya mendapat surat dari Soekarno untuk bersedia menjadi pejabat tinggi di kementerian agama RI.

Buya dan keluarga memulai babak hidup baru di Jakarta. Jiwa negarawan Buya semakin kuat setelah masuk panggung politik pemerintahan. Ia turut merumuskan dasar negara bersama negarawan lain seperti Adam Malik, Soekarno, Hatta, M. Natsir, Moh Yamin, dan lainnya. Buya dan partai Masyumi bercorak Islam berusaha memasang pondasi nilai agama dalam tata negara.

Buya adalah seorang nasionalis, namun ketika berbicara tentang akidah –pokok– agama, ia tak mau bergeming sedikitpun. Saat menjabat menjadi ketua MUI di periode kedua, ia membuat fatwa tegas yaitu umat islam dilarang merayakan natal. Hal yang menimbulkan kerenggangan hubungannya dengan presiden terpimpin Soekarno. Presiden ingin fatwa tersebut dicabut, karena ia merasa akan mengganggu prinsip nasionalisme, namun Buya tetap bergeming dan lebih memilih mundur dari jabatannya.

Melihat kedudukan Buya sebagai seorang negarawan, ulama, dan sastrawan, banyak suara-suara sumbang yang memojokkan beliau semasa PKI berkuasa di kancah perpolitikan. Melalui koran Harian Rakjat, Bintang Timur, dan Warta Bhakti, seorang tokoh PKI, Pramoedya Ananta Toer menuduh Buya sebagai seorang Plagiat. Hingga puncaknya Buya dipenjara tanpa peradilan oleh pemerintah orde lama atas tuduhan terlibat dalam upaya pembunuhan presiden Soekarno.

Dua tahun setelahnya, Buya dibebaskan oleh presiden penerima mandat MPRS, Soeharto. MPR Sementara menentukan Soeharto sebagai presiden terpilih melalui sidang luar biasa beberapa saat usai orde lama menunjukkan kemunduran dan terjadi upaya kudeta paksa yang dilakukan oleh PKI. Setelah Buya bebas, semua PKI, Lekra, koran dan segala hal berbau PKI dibubarkan sampai ke akar oleh pemerintah orde baru.
Buya seorang pemaaf. Dijebloskan ke penjara tanpa peradilan oleh Soekarno tak membuatnya sakit hati. 

Beberapa saat sebelum wafat, Soekarno meminta Buya bersedia menjadi imam sholat jenazah ketika ia wafat. Tokoh nasionalis lain seperti Moh Yamin diakhir hayat juga meminta Buya untuk menemani jasadnya ke Minang, ia takut jenazahnya di tolak oleh masyarakat adat Minang. Dengan adanya Buya, Moh Yamin berharap masyarakat Minang mau memaafkannya.

Cerita menarik dilakukan oleh Pram –sapaan Pramoedya– setelah PKI dan Koran yang diasuhnya dipangkas Soeharto. Pram adalah seorang beragama islam, begitu juga anak perempuannya. Ketika anak Pram ingin menikah dengan seorang Kristen keturunan tionghoa, ia berkata kepada calon menantunya, “Temuilah Buya Hamka. Sesungguhnya aku ingin anakku dinikahi oleh orang seagama.  Belajarlah agama dari Buya. Karena aku percaya Buya mampu mengislamkan kamu dengan benar.” Suatu pesan permohonan maaf  dari hati Pram kepada Buya atas apa yang dahulu ia lakukan.  

Itu hanya sebagian dari beberapa kisah dan sisi lain seorang Buya Hamka. Saya suka sejarah dan politik, maka hanya sudut pandang itulah yang saya sampaikan. Sebenarnya masih ada banyak yang belum tertuliskan, baik Buya sebagai seorang ayah teladan, kehidupan rumah tangga, pengalaman diujung maut, ia seorang sufi, ilmu tassawuf, seorang diplomat, dan lain sebagainya.

Buku ini sangat cocok bagi kalian yang rindu akan sosok negarawan yang nasionalis religius dalam berbagai aspek kehidupannya. Bahasa yang dituliskan Irfan sangat mengalir bak bercerita dengan teman hangat. Hingga tak terasa waktu sudah bergulir dan perut belum terisi makanan saat asyik membacanya.
Buku ini tersedia di Gramedia seluruh Indonesia –InshaAllah– dan diterbitkan oleh penerbit Republika. Terakhir dari saya. Selamat Membaca. 

(Bisa beli sendiri atau meminjam ke saya juga bisa).



Monday, 30 December 2013

Bre-X : Sebungkah Emas di Kaki Pelangi

Posted By: Unknown - 3:18 pm
Jika saya berkata “maknyuss” apa yang anda fikirkan? Pasti pak Bondan Winarno. Pria kelahiran Surabaya 63 tahun silam merupakan seorang penggila kuliner dan namanya melambung saat membawakan acara wisata kuliner di Trans TV. Namun ada fakta unik dari seorang Bondan Winarno, tahukah anda jika Bondan adalah seorang penulis dan wartawan?.

Di dunia tata boga, lulusan Arsitektur Undip ini ahlinya, dia mempelopori dan pernah menjadi ketua komunitas Jalansutra, sebuah komunitas wisata kuliner yang cukup eksis di Indonesia. Siapa sangka, di dunia jurnalisme, nama Bondan Winarno juga cukup tersohor. Berkat salah satu buku investigasi karangannya, Bre-X, ia masuk kedalam jajaran wartawan top Indonesia.

Karena sampai sekarang bisa dihitung dengan jari, seberapa banyak wartawan yang mau menggeluti jurnalisme sejauh Bondan Winarno. Dalam penyusunan bukunya memperlukan waktu hingga 10 minggu dan melintasi berbagai Negara, sampai ke negeri Kanada dan Filipina. Tak terhitung berapa rupiah, tenaga dan waktu yang telah dikeluarkan untuk menyelesaikan investigasi tersebut.

Bre-X, sebungkah emas dikaki pelangi. Mengisahkan sebuah kasus penipuan Michael De Guzman, seorang manajer eksplorasi tambang PT Bre X Corp. Saat proses penelitian kandungan emas di daerah Busang, Kalimantan Timur, ia melumuri mata bor dengan biji emas, seolah – olah kandungan emas di dalamnya sangat banyak, bahkan terbesar didunia.

Setelah hasil penelitian tersebut di umumkan ke pasar modal, akhirnya saham Bre X selaku pemilik hak penelitian melambung jauh beratus kali lipat. Banyak investor yang menawarkan bantuan dana ke Bre X untuk segera melakukan eksplorasi. De Guzman sukses, uang melimpah dari investor dan penjualan sebagian saham Bre X telah ia dapatkan.

Keanehan terjadi, muncul pemberitaan bahwa De Guzman telah dibunuh, pertanyaannya apa yang membuat orang bunuh diri di puncak karir?. Pertanyaan besar di benak Bondan. Sebuah fakta terkuak, ternyata eksplorasi Bre X di Busang tidak membuahkan hasil, selama beberapa waktu, emas tak kunjung di dapat. Jelas, De Guzman terbukti berbohong.

Bondan makin kuat menduga jika De Guzman telah mempersiapkan skenario untuk menghadapi tuntutan investor dan pemerintah Indonesia atas pembohongannya. Dia membunuh seseorang di sebuah hutan Kalimantan, dan ia bersekongkol dengan beberapa orang agar meyakinkan bahwa yang mati tersebut adalah dirinya. Dengan begitu, jika emas tidak ditemukan, ia akan bebas dari jerat hukum.

Insting Bondan sebagai wartawan cukup tajam. Ia berangkat ke Kalimantan dan mengecek mayat yang di yakini De Guzman. Bondan coba menganalisa, bagaimana mungkin mayat yang dikatakan sebagai seorang yang bunuh diri dari ketinggian 800 meter tidak hancur. Bentuk hutan Kalimantan seperti brokoli, jika memang De Guzman jatuh dari Helikopter, seharusnya mayatnya tersangkut di pohon, tidak sampai jatuh di rawa.

Ada sebuah cerita dari teman sekamar De Guzman, bahwa sang geologis memiliki gigi palsu dan mencopotnya ketika hendak tidur malam. Penasaran, Bondan terbang ke Filipina dan menemui keluarga De Guzman disana. Ia menanyakan apakah mayat tersebut memiliki gigi palsu atau tidak. Ternyata tidak, benar dugaannya, yang mati bukanlah De Guzman.

Sampai sekarang keberadaan De Guzman tak diketahui. Kabar terakhir ia peroleh dari Geni, salah satu istri De Guzman. Ia mengaku bahwa ia masih kerap mendapatkan sejumlah uang dari rekening De Guzman. Karena Geni asli dayak, ia melakukan ritual panggil roh, ternyata roh De Guzman tidak datang. Geni semakin yakin, bahwa suaminya itu masih hidup. Mungkin De Guzman sedang menikmati kopi dan liburan saat Bondan sedang menyelidiki kasusnya.

Secara tidak langsung, kasus pembohongan ini mencoreng nama baik Indonesia dimata dunia. Bagaimana bisa Indonesia mengeluarkan ijin kepada perusahaan asing untuk mengeksplorasi kekayaan alam milik-nya, sedang pemerintah tidak ikut dalam penelitian. Jika pemerintah ikut berarti juga ikut berbohong? Tidak mungkin.

Dari kasus Bre X, investor dan perusahaan tambang mineral dunia bisa mengetahui bahwa Negara kita merupakan Negara yang tak mengetahui kekayaan alam apa yang dimiliki. Selain itu, kerugian besar juga dialami oleh pemegang saham yang jumlahnya sangat banyak. Dua hal yang membuat Bondan merasa sedih.




Copyright © 2013 Ghostwriter™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.