*

*
Powered by Blogger.
Showing posts with label Celoteh Sentun dan Nunu. Show all posts
Showing posts with label Celoteh Sentun dan Nunu. Show all posts

Tuesday, 14 January 2014

Sentun dan Nunu : Penyadapan Kanguru #3

Posted By: Unknown - 12:58 am
Indonesia Tapped by Ausie
“Kriiingggg” hapeku berbunyi cukup kencang. Segera ku angkat panggilan. “Assalamu’alaikum. Iya ini saya wahyu ……”, samar terdengar suara wanita di telinga Nunu. Sebentar kami mengobrol di telefon, setelah ku tutup, tiba – tiba Nunu menanyaiku, “ciiieeee, siapa tadi tun?”.

“apaan. Itu operator bank bukopin. Selalu telfon jika ada promo bulanan.” jawabku. Lantas ku balik tanya.
“lha kamu tadi nguping?”. Nunu merespon, “Sedikit aja, hehe.”

“Uda kayak Australia aja, suka nguping orang lain.” keluh ku.

penyadapan
Beberapa waktu lalu sempat nge-hits kasus penyadapan yang dilakukan oleh intelegen Australia terhadap beberapa pemimpin negara tetangga, termasuk Indonesia. Pak SBY dan bu Ani menjadi korban keusilan negeri kanguru tersebut.

Nunu memulai percakapan kembali,

“kok Indonesia bisa disadap ya?”. Aku jawab,

”ya karena pejabat nggak mau di kasih frekuensi khusus. Petinggi kita malah pake frekuensi publik.”

“berarti pake telkomsel, indosat, gitu yaah?”. “iya Nu”.

“oowwhhh”. Nunu lanjut bertanya,

“tapi kok perdana menteri Tony Abbot nggak cepet-cepet minta maaf ke kita ya? Padahal kan kita mitra penting mereka? Apa mereka nggak ngerti perasaan sakit hati kita?.” Nunu penasaran.

“nggak tau juga Nu. Bahkan, pak SBY sampai ngirim peringatan ke mereka dua kali lhoo.” responku.

“kayaknya kita diremehin sama mereka ya tun?” Nunu, dengan raut muka penuh tanya.

“iya apa ya Nu. Ehhmm. Masalahnya itu, karena kita memiliki kedudukan yang lemah di tatanan dunia.”
Nunu masih bingung. Aku coba lebih memperjelas.

“dari segi ekonomi saja. Kita masih tergantung pada mereka soal impor daging sapi. Mata uang kita juga lemah dimata Dollar. Secara politik, kita juga tak memiliki kedudukan berarti. Jadi jangan heran kalau harga diri kita dianggap sebelah mata.”

“owhhh. Pantes.” Nunu mulai memahami. Kemudian ia terus bertanya untuk menjawab rasa penasaran-nya.

“terus kita harusnya gimana?”

kedaulatan pangan
“ya kita harus berdaulat dulu di bidang ekonomi. Soalnya enggak mungkin kita mutusin kerjasama impor daging sapi”.“Karena masalah ekonomi pula, orang Indonesia menjadi TKI di Malaysia, nggak heran kalau mereka -Malaysia- berani sama kita. Coba aja kalau rupiah berdaulat, internasional akan berfikir dua kali untuk cari-cari masalah”

Nunu mengangguk tanda mulai paham. Kemudian ia berpendapat,

“tapi aku setuju aja sih kalau ada penyadapan!” kata Nunu dengan kalem.

“haaahh, kok bisa?” jawabku kaget.

“asalkan isi rekaman itu diserahin ke KPK secara diam-diam, demi kepentingan pengawasan terhadap tindak pidana korupsi kalau aja terjadi”.

“owwhh iya, bener juga kamu Nu” jawabku meng-amini.

“moga aja kita bisa mandiri secara ekonomi Nu, biar kita nggak bergantung pada negara lain. Kan kalo kita mandiri, mau mutusin hubungan dengan kanguru, jiran, paman sam, atau siapa aja-lah, pasti kita berani.” Impiku.

“ya kalau bisa sih kita hidup damai aja-lah. Kan kita juga saling membutuhkan. Tapi ya kita harus berdaulat dulu sih, kalau enggak, selamanya kita di-ketek-in terus” simpul Nunu.

Jam menunjuk ke angka 11.00

“Nu, ayo ngampus. Kuliah geofis. makin telat makin nggak ngerti lhoo”

Berangkat-lah kita ke kampus. Berusaha belajar ilmu geodesi dan mencoba lebih peka akan kondisi sosial masyarakat di negeri tercinta ini. Semoga Indonesia jauh lebih baik di tangan kami kelak. We Believe.





Wednesday, 8 January 2014

Sentun dan Nunu : Jomblo Berdasi #2

Posted By: Unknown - 9:21 pm
Pria Berdasi
Pagi jam 9, di hari rabu delapan januari dua ribu empat belas, aku sms Nunu.

“Nu, tugas survey batas wilayah gimana?”. Tak lama berselang hp ku berdering, ada balesan dari Nunu,

“tinggal ngeprint doang. 15 menit lagi tak tunggu di kos ya, bantuin ngeprint.”.

Aku bales, “oke”.

Lima menit berselang aku sudah sampai di kos Nunu di depan kantor pos. Kita ngeprint di Zeus samping alfamart banjarsari. Di sana kita ketemu Wahyu “gendut” sama Cya, mereka lagi ngeprint juga.

Sebentar kita ngobrol, kita bahas KKN, kalau mahasiswa semester akhir bilang sih Kisah Kasih Nyata.

Gendut dan Cya uda selesai duluan, mereka pamit balik, “Balik sik ya tun”, gendut.

“iya ndut, Cya hati-hati ya” jawab kami. Tak lama kemudian, kita lanjutin ngobrol.

“KKNmu gimana Nu? Ada yang cantik? haha”. Tanyaku.

Nunu senyum simpul. Kemudian dia jawab,

“Nggak ada ndes. Ada sih, tapi yang satu kecamatan. Berat tapi Tun.”. “lhaah kenapa?”, responku.

Agak lama dia mikir, malu mau ngomong, “orang e cantik, sugih –kaya–, naiknya mobil.”. ckck. Aku kasian sama dia, “dunia memang kejam nu, sabaarrrr yak.”

Itulah kita, masih menilai seorang wanita dari tampilan fisik doang. Padahal yang sekarang cantik, 20 tahun lagi juga bakalan keriput. Beda kalo cantik-nya itu di hati, fikiran dan sikap, makin lama malah makin terlihat cantik.

Merasa di rendahin, dia bales nanya, sambil senyum ringan dia ngomong,

“lhaaa kamu gimana? Anak FISIP? Hahaha.”. pertanyaan paling nyakitin, kenangan yang bikin aku resah, situasi yang berujung tulisan terimakasih muslimah.

Tapi mau gimana lagi. Ambil positifnya aja, paling enggak aku uda tahu yang ideal itu yang gimana. Ambil aja celah kebaikan dibalik rasa galau. Lantas ku jawab,

”santai-lah Nu. Wisuda dulu.” Alibi mematikan.

“iya sih, wisuda aja dulu, bapakku juga uda mau pensiun, kasian kalau ngluarin biaya terus”. Wiiiih. Bijak juga dia.

“seep Nu, kereen. Hehe. tapi bukan alibi to?”.

“enggak lah, urusan sama orang tua ya harus seriusan. Nggak main-main.” emang dia anak berbakti.

Hening sejenak, aku lanjutin, “Yang penting wisuda ntar agustus. Trus kerja. Akhirnya kesampaian juga harapan ibukku, punya anak kantoran, jadi orang berdasi. hahaha”.

Masih setia ndengerin, aku lanjutin cerita, “Ya wanita kan sebener e enggak matre sih. Tapikan butuh penghidupan yang layak juga dari suami. Makanya kita sebaiknya jadi orang berdasi juga. Minimal ada kerjaan pasti-lah Nu.”

“Yoo bener banget, tapi sekarang jangan mikir wisuda dulu. UAS aja belum kelar. Tadi uda belajar SBW -Survey Batas Wilayah- belum?” tanya Nunu.

Sambil geleng kepala ku jawab, “oowh ya, belummm. hehe”

Nuardi sedikit serius ngomong, “belajar ujian aja enggak, kok mau sukses UAS?. Kalau UAS jelek wisudamu bisa Agustus, tapi tahun depan. Tertunda to jadi orang berdasi-nya!.”

“jangan lah Nu,” jawabku miris, penuh harap. “makane belajar ujian dulu”, pungkas Nunu.

Jadi, buat kalian yang masih menunggu jodoh. Mulai dari sekarang siapin dulu diri kalian sebaik mungkin, karena sewaktu-waktu jodoh bisa datang. Jangan menghinakan diri dengan rasa galau dan rendah diri.

Setiap orang pasti ingin memiliki pasangan yang sukses, atau minimal mau diajak sukses. Jadi orang berdasi atau enggak, kalian juga yang menentukan. Untuk berdasi kita butuh wisuda, untuk wisuda kita butuh nilai bagus, dan untuk nilai bagus kita butuh belajar.

Selamat belajar, sekecil apapun itu, jika positif, akan menjadikanmu pribadi yang jauh lebih baik lagi.














Sentun dan Nunu : LPG Naik Lagi #1

Posted By: Unknown - 1:11 am
Gas 12 kg naik lagi
Siang itu tembalang panas. Kita lagi makan di sebuah burjo di daerah tembalang,

“A’ pesen indomie tante dua ya. Minumnya air putih aja”, tante itu tanpa telor. Aku dulu juga bingung apa maksud dari penamaan mie tante. Apakah mie instan merek tante, ataukah yang masakin mie itu tante-tante. Bukan juga ternyata.

Dari arah sampingku ada Aa’ satunya yang abis beli gas LPG 12 Kg dan kelihatan keberatan membawa-nya.

“wuiih. Berat A’?” pertanyaan bodohku.

“iya ni a’. uda gitu harganya naik lagi.” keluh si Aa’.

Aku tak merespon lagi. Kasian si Aa’. Uda usaha-nya kecil, bawa gas-nya juga susah. Harganya masih aja naik.

Selagi nunggu mie. Kita ngobrol,

Nunu : ”gas kok naik ya”

Sentun : “kalo yang 12 Kg pasti naik terus Nu. Soal e nggak di subsidi sama pemerintah”

Nunu : “kalo 3 kilo disubsidi?”

Sentun : “iya”. “Naik e  hampir 40 persen lho Nu. Dari Rp.78.000 jadi sekarang Rp.122.000. berlaku ne per satu januari kemaren”

Nunu : “cocote. Mahal banget ndes. Gas LPG non subsidi tu yang buat industri kan?. Pasti pengaruh ke harga pasaran”

Sentun : “pastilah”.”pasti nanti banyak terjadi kecurangan. Gas 3 kilo kan hargane 15 ribuan. Trus kalo 4 tabung gas 3 kiloan dioplos ke tabung 12 kg kan cuman habis 60 ribu. Selisih e hampir 62 ribu. Lumayan kan kalo pengen buat gas oplosan!.”

Nunu : “trus nanti yang 3 kiloan stok e berkurang!. Langka dipasaran. Akhir e simbokku –emak– nggak bisa masak di rumah.”

Sentun : “hahaha. Iyo sih Nu.”.”aku ketawa lho sama usulan salah satu anggota DPR kemaren. Katane biar nggak ada LPG 12 kilo oplosan mending harga 3 kilo juga ikut di naikkan, biar gap harga keduanya nggak terlalu jauh”.

Nunu : “teggkee. Bodo banget ndes”

Sentun : ”ya kalau nyalonin diri cuman pake uang, tanpa persiapan integritas ya kayak gitu nu. Tolol atau mentololkan diri”. Hahaha. Kami tertawa bersama.

Nunu : “trus kalo 3 kilo naik, bedannya sama minyak tanah apa? Sama – sama mahal to? Katane dulu hargane murah. Subsidi. Penipuan publik ini.”

Sentun : “lhaa iku Nu. Aku juga heran. Pemerintah yang punya kewenangan harusnya nge-intervensi Pertamina lho. Kan BUMN iku milik negara. Pemanfaatan e juga harus untuk rakyat, bukan golongan. Apalagi di korupsi”

Nunu terdiam sejenak mengecek pesan masuk di hp nya. kemudian,

Nunu : “laper ki. Mie nya kok lama ya!”

Sentun : “makan gorengan aja dulu”. tiba- tiba aku ketawa sendiri.

Nunu : “ngopo tun? Ketawa sendiri”. Untung Nunu bukan mendiang Kasino warkop, dia pasti bilang gila lu ndro.

Sentun : ”Tadi abis liat berita. Seorang pejabat ngomong kalau subsidi itu hanya manjain rakyat.”

Nunu : “Teggke. Ngomong e enak banget ndes. Nggak ngerti amanat konstitusi kayaknya”

Sentun : “Padahal kan perusahaan milik negara emang tugasnya nyari keuntungan sama ngelola kekayaan negara. Abis itu dibagiin lagi ke rakyat bareng sama uang pajak. Biar sekolah murah, makanan murah, air minum juga ada di tiap rumah. Nggak kok malah beli botol air minum dari swasta. Itupun swasta asing pula”.

Nunu : “Ya itu Indonesia”. Kami tertawa kecil.

Tak lama berselang mie tante uda dateng. Mie tante kita makan bareng dua buah gorengan tempe. Kalo diperhatiin ada tiga lapisan, lapisan tepung dibawah, tempe ditengah, dan tepung lagi di atas. Jadi 1 lapis tempe berbanding 2 lapisan tepung. Kita tau kok, harga kedelai juga mahal. Apa sih yang murah.

Uda selesai makan. Kita bayar, “A’ uda.”. Aa’ itu menjawab, “iya apa aja A’.”

“tante dua sama tempe empat”.  Aa’ terlihat menghitung berapa rupiah yang harus kami bayar.

“tante dua delapan ribu. Sama gorengan empat, tiga ribu. Jadi sebelas ribu”. Aku bayar dengan uang pas. “gorengan berapaan A’?”. Aa’ jawab, “tujuh ratusan A’.”. “uda naik aja ya A’!” balasku.

Lantas Aa’ memberikan pembelaan, “ya gas LPG aja naik masak harga gorengan enggak”. Haha, bener juga si Aa’.

“Uda ya A’.” pungkas si Nunu.




Tuesday, 7 January 2014

Sentun dan Nunu : Perkenalan

Posted By: Unknown - 11:27 pm
Ngliput demo ukt dan ninggalin kuliah
Hitung Perataan
Hallooo temen-temen semua.
kita mau kenalan lho. hehe.
ada satu rubrik dari blog saya yang akan membahas mengenai serba serbi media dan dunia kampus,
kami akan menyajikannya dengan bahasa yang enak dan santai.

Namaku bukan Wahyu disini, tapi Sentun,
satu lagi temenku namanya Nuardi, panggil aja Nunu.
anak - anak cewek momentum yang ngasih ide tu nama.
biar pimred terkesan unyu. hehe. Aku sebagai redpel cuman ikut seneng aja.

anggep aja kita mahasiswa tingkat akhir yang uda kenyang perihal media dan dunia kampus.
cerita akan kita setting seperti hari - hari biasa kami.

semoga anda terhibur dan tidak menyakiti perasaan seseorang-pun.

efek kamera
aku yang kelihatan agak putih, nunu di belakang

Copyright © 2013 Ghostwriter™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.