*

*
Powered by Blogger.
Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Sunday, 10 August 2014

Berbagi Tapi Takut Riya'?

Posted By: Unknown - 2:06 pm
Perhatikan foto dibawah ini :

( Relawan geodet berbagi sedang membagi nasi ke seorang bapak-bapak)
***
Foto diatas adalah hasil dokumentasi komunitas Geodet Berbagi. Wajah wajah diatas kadang muncul di akun official Geodet Berbagi baik Facebook maupun Twitter. Dan dilihat oleh banyak teman ataupun follower. Terkadang, ada saja yang mengatakan,

“aku sebenernya pengen ikutan berbagi nasi, tapi aku takut riya’ kalo difoto-foto.”

Simpel aja sih, kalau misalnya takut riya’ mungkin bisa meminta seksi dokumentasi untuk tidak me-share foto yang menampakkan dirinya sedang membagi nasi. Simpel. Tapi masih bisa ikutan kan! Hehe.

Pertanyaannya, bagi “model” Geodet Berbagi, bagaimana caranya untuk mengatasi sifat Riya’ tersebut? Padahal mereka “dipaksa” tampil di depan layar agar kegiatan Geodet Berbagi mampu dilihat, dipantau dan syukur-syukur mampu menginspirasi orang banyak. Berikut pendapat saya.

Sebelumnya, Riya’, suatu sifat/niat dalam hati untuk melakukan sesuatu kebaikan dengan maksud agar ia dipuji oleh orang lain. Agar ia disanjung dan agar memperoleh kedudukan. Dalam perspektif agama islam, baik tidaknya perbuatan dihitung berdasarkan niat. Innamal A’malu Binniat. Jika niat kita untuk memperoleh balasan dariNya, maka itu dianjurkan. Namun, jika kita mengharapkan selain balasanNya. Maka itu disebut Riya’.

Dan Riya’ adalah termasuk Syirik kecil. Wow, Riya’ hampir setara Syirik (menduakan Tuhan), dosa yang sangat besar yang tak akan diampuni olehNya. Wajar saja kalau banyak orang yang mewaspadai diri agar tak terjangkiti Riya’. Celakanya orang-orang terlalu takut terhadap Riya’ sehingga menghalanginya untuk berbuat baik. Padahal, berbuat baik adalah suatu kewajiban.

“Kalian harus mewaspadai Riya’. Tapi jangan sampai itu menghalangi kalian dari berbuat baik.”

Jadi, kita tidak boleh menunda keinginan untuk berbuat baik karena takut Riya’. Riya’ adalah sifat manusia yang sangat susah untuk dihilangkan. Bahkan, ulama pun tak lepas dari sifat tersebut. Namun, ukuran besar kecilnya mungkin tak sebesar yang kita miliki.

Bukan hanya sebelum berbuat, ketika berbuat atau bahkan ketika selesai berbuat baik pun Riya’ akan selalu menghinggapi hati kita. Saran ulama adalah lakukan saja perbuatan baik anda. Jika setiap kapan saja anda takut Riya’, maka ingatlah Allah. Allah pasti tak mensia-siakan amal manusia. Berbaik sangka-lah terhadapNya, maka ia akan berbaik sangka pula dengan kita.

Jadi, lakukan saja perbuatan baik anda, jika kapan saja anda merasa terjangkiti Riya’, maka langsung saja anda mengingat Allah, Insha Allah Ia akan membimbing hati anda terhadap kemantapan. Dan yang terpenting adalah jangan sampai perasaan takut Riya’ mampu mengalahkan niatan baik anda untuk berbuat baik.

Maaf kalau ada salah kata.

Masih belum yakin?

Ada tips menarik dari Alim Ulama.

Lakukan sedekah dengan diam-diam (tak terlihat seorangpun). Dengan kadar lebih besar daripada sedekah yang anda perlihatkan (terang-terangan). Jadi, bagi kalian, para “model” komunitas sosial apapun. Ketika anda di foto dan di share dimana-mana, padahal anda sedang berbuat baik, janganlah takut, itu bukan Riya’ insha allah. Jika niat anda adalah benar-benar karenaNya, agar mampu menginspirasi orang lain atau sebagai sebuah ajakan kepada orang lain untuk berbuat baik. 
Kindness is fun.    


Memilih Dua Pilihan

Posted By: Unknown - 9:44 am
(Masih) Tentang pengalaman hidup saya yang harus bertemu dan menghadapi tantangan dengan kepala tegak. Tantangan itu bernama Geofis. Pesan yang ingin saya sampaikan adalah bagaimana kita seharusnya mengutamakan kewajiban dan keharusan kita untuk tegas mengambil setiap keputusan. Dan kita tahu. Setiap keputusan pasti ada resiko. Begini ceritanya.

Semester satu sampai enam saya lalui seperti kebanyakan mahasiswa. Dimulai di Kost, mandi, terus ngampus, ndengerin dosen di dalem kelas, dateng rapat, ngerjain tugas dan tentunya, main PES. Hehe. Di semester 7 lebih terasa cukup berat bagi saya, walaupun saat itu saya hanya mengambil 2/3 dari total paket sks. Karena 1/3 nya telah saya ambil di semester awal. Tetapi, di semester akhir tersebut saya malah mengikuti empat organisasi sekaligus. Pers Teknik, Mapala Geodesi, Rohis dan BEM universitas. Disinilah titik permasalahan yang saya alami.

Sedikit saya ceritakan. Saat semester 7 tersebut saya ditunjuk menjadi salah satu hakim sidang di KPSP atau Komisi Penyelesai Sengketa Pemira (semacam MK) dalam proses PEMIRA Undip tahun 2013. PEMIRA singkatan dari pemilu raya, pesta politik pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa.

Siang hari di kantor polisi –sekretariat panitia PEMIRA– samping POM bensin Undip. Disaat proses sidang gugatan sedang berjalan, saya mendapat kabar dari seorang teman, kalau ada kelas tambahan matakuliah Geodesi Fisis (Geofis) untuk mengganti kekosongan pertemuan sebelumnya. Kondisi saat itu, saya telah absen 4 kali. Jadi, kalau saja saya absen lagi, sudah dipastikan nilai saya tidak keluar. Terus gimana? Saya juga bingung saat itu. Antara meninggalkan sidang atau titip absen –kebiasaan buruk yang secara perlahan saya coba tinggalkan–.

Kenapa saya berat untuk meninggalkan sidang?. Dalam peraturan sidang, harus dihadiri oleh beberapa hakim yang telah ditentukan. Dan jika saya tinggalkan, sidang akan cacat, karena keberadaan hakim tidak memenuhi ketentuan. Mau tidak mau saya harus disana. Disitulah saya sedikit mengerti kenapa DPR “berkeringat” saat membuat undang-undang. Setiap detil ketentuan UU harus ditulis dengan jelas. Bahkan disertai penjelasan per-pasal agar tidak menimbulkan multitafsir.

Dilain sisi. Kuliah adalah kewajiban saya. Dan memenuhi minimal 75% kehadiran kuliah adalah sebuah kewajiban. Celakanya, 4 kali sudah saya tak memenuhi kehadiran kelas. Sekali lagi tak hadir, saya sudah tak memenuhi syarat untuk mengikuti ujian akhir semester. Duh Gusti.

Sementara sidang istirahat. Saya mencoba sedikit bernegosiasi dengan hakim sidang lainnya. Pelan-pelan saya membujuk mereka untuk mengizinkan saya meninggalkan sidang. Dan sesuai dengan tebakan saya. Mereka menolak, terlebih hakim ketua, ia sedikit ngotot meminta saya untuk tetap di tempat. Saya rasa tak bisa ikut kelas Geofis (lagi).

Perasaan saya tak tenang. Fikir saya saat itu, kewajiban kuliah lebih besar daripada organisasi. Walau kontribusi di Pemira adalah kewajiban, sesuai amanah, namun ada kewajiban lebih besar yang harus saya dahulukan, yaitu belajar. Jadi saya putuskan lebih ngotot lagi untuk meminta izin meninggalkan sidang. Setelah perdebatan cukup lama, saya diizinkan keluar sidang. Alhamdulillah. Sidang berlanjut walau sesuai ketentuan “cacat” karena kuota hakim tak memenuhi. Namun, saya memakluminya, karena ini adalah dunia kampus, tempat kita belajar, kalau ada salah dan cacat ya wajar-wajar saja. Namanya juga belajar.

Setelah sampai kampus. Ternyata kelas sudah masuk cukup lama. Hampir 45 menit. Duh, galau lagi. Kalau masuk ada dua kemungkinan, pertama, disuruh keluar, kedua, boleh masuk tapi di”interogasi” terlebih dahulu, karena terlalu lama terlambat. Kenapa saya telat lama sekali?. Pertama, temen saya memberi tahu ketika dosen sudah masuk. Kedua, lumayan lama membujuk hakim untuk memberi izin. Ketiga, saat itu turun hujan, saya menunggu sedikit reda sebelum memutuskan “nekat” ngampus tanpa jas hujan.

Lima menit saya berfikir di luar kelas. Masuk atau enggak. Entah apa yang saya pikirkan saat itu. Saya memilih keputusan. Saya titip absen dan pulang. Dua hal saya dapatkan. Pertama, saya titip absen –bohong–. Kedua, saya meninggalkan sidang –berbohong lagi, karena ternyata nggak jadi masuk kelas–. Kedua kewajiban dan amanah saya tinggalkan. Hanya dapat basah kuyup dan capek. Bodoh kan?.

Kebodohan itulah yang membawa saya ketitik terendah. Diakhir cerita (baca cerita saya tentang geofis 1 2 3) saya mendapatkan nilai D. Untuk pertama kali dan itu terjadi di semester ketujuh. Perlu dicatat, Teknik Geodesi tidak mengenal sistim SP atau semester pendek. Dan satu lagi, pengumuman nilai keluar di akhir bulan februari, dua minggu sebelumnya saya sudah mengantongi judul skripsi.

Mungkin sebagian dari kita tidak menyadari, bahwa setiap keputusan kecil yang kita buat saat ini adalah investasi untuk sebuah hasil menakjubkan di kemudian hari. Mungkin pilihan saya untuk tak jadi masuk kelas saat itu adalah keputusan kecil. Pilihan saya untuk titip absen dan meninggalkan sidang adalah hal mudah yang saya lakukan saat itu. Namun, dampak besar terjadi dalam diri saya.

Akhirnya, saya merasakan nilai D. Dan target wisuda pertengahan tahun 2014 tertunda. Kondisi saya sekarang, semester 8 hanya mengambil sks Tugas Akhir dan di semester 9 hanya mengambil Tugas Akhir (lagi) dan Geodesi Fisis. Terimakasih atas pembelajarannya.


Setiap kesalahan tak selalu berujung dengan kesalahan selanjutnya. Yang terpenting, bagaimana kita mengubah dampak dari kesalahan tersebut menjadi suatu kebaikan yang tak kita duga sebelumnya. Tetap semangat. Tuhan bersama mereka yang mau memperbaiki kesalahan.   

Tuesday, 5 August 2014

Kereta Bhinneka

Posted By: Unknown - 9:41 am
Bapak Ignatius Jonan, CEO PT KAI yang sedang terlelap tidur di sebuah bangku ekonomi dengan masih memakai seragam dinas miliknya.

Berikut berita selengkapnya, dikutip dari Merdeka.com

***


MERDEKA.COM. Foto Direktur PT KAI, Ignatius Jonan terlelap tidur dalam Kereta Api ekonomi menyebar di laman media sosial. Menurut anak buahnya di PT KAI, dia sejak tanggal 20 Juli, sampai saat ini paling tidak hampir 15 hari, dia masih belum pulang ke rumah demi memantau arus mudik dan balik. 

Saat berada di KA ekonomi Panatara tujuan Malang-Surabaya, Jonan sangat menikmati tidurnya setelah melihat kesiapan arus balik, dipo dan stasiun di Kota Malang, Jawa Timur. "Sekarang kami ada di Semarang, baru H+10 lepas piket, ini diperpanjang," ujar Juru Bicara PT KAI, Sugeng Priyono yang selama ini menemani Jonan keliling melihat kesiapan angkutan lebaran, pada merdeka.com, Senin (4/8).

Dia mengatakan foto itu diambil oleh Pengamat Kebijakan Publik Pambagio, pada 31 Agustus lalu. Dirinya, dan Jonan tidak tahu kalau saat ini foto dirutnya yang kelelahan menyebar di media sosial bahkan jadi bahan tulisan Menteri BUMN, Dahlan Iskan, hari ini.

"Pak Jonan itu, memantau arus mudik hanya membawa baju seragam PT KAI 4 biji. Tidak bawa koper yang isinya macam-macam. Poto itu sempat diperlihatkan pada beliau, dia hanya tersenyum saja." katanya.

Sugeng mengatakan Jonan berharap, KA Ekonomi yang bersih bisa menjadi tempat istirahat saat masyarakat menggunakannya. Karena, kalau KA nyaman dan bersih, tidur pun bisa nyenyak ."Dia tidur hampir satu jam, dari Lawang sampai Sidoarjo. Kami tidak berani membangunkannya karena sangat kelelahan kurang istirahat, saya setiap hari mendampinginya, kami berdua, sisanya teman-teman daerah," katanya.

Sebelum tertidur, kata Sugeng, bosnya tersebut melakukan pantau terhadap keberadaan penumpang dan menanyakan kondisi mereka. Bahkan, kami berharap penumpang lainya tidak tahu bahwa yang tidur meringkuk tersebut adalah Ceo PT KAI. "Beliau itu tidak pernah menyalahkan anak buah, kalau ada yang kurang, yang salah ya pimpinannya," ujarnya.

Foto Jonan sedang tidur di gerbong KA ekonomi karena kelelahan setelah berhari-hari memantau Posko Angkutan Lebaran beredar di grup facebook KRL mania. Jonan yang masih berseragam lengkap tidur meringkuk di bangku penumpang beralaskan sweeternya. Jonan tidur pulas tanpa melepas kaos kakinya. Dia tidur seakan tak peduli dengan image 'dirut' yang disandangnya, mungkin saat itu yang dia perlukan hanya istirahat.

***

Mungkin dua hal kontradiktif pertama yang anda fikirkan adalah pencitraan dan kerja keras. Kenapa pencitraan saya sebut pertama? Karena kebanyakan dari kita sudah teracuni isu negatif media yang penuh curiga dan buruk sangka. Sehingga menutupi kerja keras yang benar-benar beliau lakukan.

Bosan bagi saya membahas dua hal tersebut. Saya lebih suka memandang terhadap sisi nilai moral agama yang terkandung di dalamnya. Mungkin karena momentum pemberitaan yang bertepatan dengan hari raya Iedul Fitri atau lebaran. Dan disaat yang bersamaan, CEO PT KAI tahun 2014 bapak Ignatius Jonan, adalah seorang Katholik.

Sikap beliau yang membuat saya terharu ialah kemauannya untuk terjun langsung memantau, mengawasi dan mengurus kereta api, salah satu model transportasi umum favorit masyarakat saat mudik ke kampung halaman. Bapak Jonan selama lebih dari dua minggu “menetap” di kereta. Ia menguras tenaga dan fokus untuk melancarkan arus mudik dan arus balik lebaran.

Dilain sisi ia tidak bercengkerama dengan keluarga untuk beberapa hari lamanya, disisi lain berjuta umat muslim berlebaran dengan senang hati di kampung halaman. Sedikit banyak, kenyamanan kereta api mempengaruhi suasana lebaran (bagi mereka yang mudik naik kereta). Kalau saja pelayanan PT KAI jelek, mungkin saja balik kampung ikut membawa perasaan dongkol.

Secara tersirat, bapak Jonan telah menunjukkan sikap bagaimana seharusnya kita ber-bhinneka. Bekerja keras penuh dedikasi sesuai bidang yang kita tekuni. Turut serta membahagiakan saudara sebangsa yang sedang merayakan hari raya penuh suka cita di kampung halaman. Sekalipun ia harus berpisah jauh dari keluarga. Padahal mudah bagi seorang direktur utama untuk istirahat dan berkumpul bersama keluarga. Namun, bapak Ignatius Jonan memilih untuk terjun langsung mengurus kereta api. Dengan harapan arus mudik dan arus balik tahun ini lancar, aman dan nyaman.

Mungkin saya berharap, suatu saat di hari raya umat agama lain di Indonesia, akan ada kisah hampir serupa. Seorang yang ahli dibidangnya, bekerja keras penuh dedikasi. Dan disaat yang bersamaan, secara tersirat ia telah membantu memperlancar mereka yang sedang merayakan hari raya.   


Sunday, 13 July 2014

Plus Minus Sahur On The Road

Posted By: Unknown - 8:25 am

Sahur on the road (SOTR), sebuah kegiatan sosial musiman ketika bulan suci Ramadhan tiba. Dalam perkembangan-nya, SOTR menuai pro kontra dari masyarakat. Ada yang mengatakan, SOTR sudah menjadi semacam lifestyle, sampai ada yang mengatakan hanya sebuah pencitraan. Menurut saya, ada beberapa hal yang mengiringi keberlangsungan SOTR selama ini.

Riya’

SOTR perlahan mendapatkan pandangan miring dari masyarakat umum. “Berbagi makanan sahur bareng anak-anak #SahurOnTheRoad”. Salah satu contoh status di media sosial yang dianggap Riya’ -menampakkan kebaikan/pamer/pencitraan- oleh pengguna sosmed lainnya. Kemudian, sesi dokumentasi berupa foto maupun video yang dirasa berlebihan juga menimbulkan persepsi negatif masyarakat.

Kurang Tepat Sasaran

Sasaran SOTR yang kebanyakan gelandangan, tukang becak, pengemis, pengamen pedagang asongan dipinggir jalan dianggap kurang tepat sasaran. Mengingat keberadaan mereka yang sebagian-nya tidak diinginkan oleh dinas tata kota. Masyarakat bertanya, kenapa tidak disalurkan ke yayasan amal, atau misalkan saja sahur bareng anak yatim di panti asuhan?.

Kurang Efisien

SOTR yang bersifat musiman, hanya satu bulan dalam satu tahun. Ini mengakibatkan animo masyarakat dalam berbagai komunitas untuk mengadakan SOTR. Kenyataan dilapangan, dalam satu hari terdapat beberapa komunitas yang membagi nasi bungkus. Alhasil, tak jarang sasaran menolak diberi makanan karena telah mendapat cukup banyak dari komunitas sebelumnya.

Setiap kegiatan pasti terdapat plus minus-nya. Menurut saya SOTR berarti berbagi kasih dan rejeki. Namun, yang membuat tak efisien dan kesan negatif adalah pelakunya. Bukan pada hakekat SOTR tersebut. Riya’ muncul karena pelaku SOTR mengumbar status, foto maupun dokumentasi lainnya secara berlebih. Tidak proporsional.

Walau dokumentasi itu penting, terlebih buat komunitas yang menggalang dana dari masyarakat umum. Maka itu hanya sebatas sebagai bukti pertanggung jawaban bahwa SOTR telah berlangsung. Jenis foto yang diambil-pun bertipe dokumentasi kegiatan, bukan narsis/selfie.

Kalau anggapan kurang tepat sasaran. Mungkin kurang tepat. Karena gelandangan, pengemis dan “penduduk” jalan lainnya juga membutuhkan bantuan dari kita. Mereka juga sama seperti kita, butuh makan, sandang dan papan. Namun, saya rasa memang kurang efisien jika SOTR hanya membagikan nasi bungkus saja.

Teringat akan cerita seorang relawan Berbagi Nasi Semarang. Ia bercerita dengan seorang tunawisma. Dari nya ia memperoleh fakta, bahwa mereka sebenernya tak terlalu mempermasalahkan urusan perut, karena mereka terbiasa makan seadanya. Mereka berandai, jikalau komunitas sosial ingin berbagi dengan mereka, mereka meminta bantuan dalam bentuk barang pakai seperti pakaian ataupun sarung/selimut. Itu lebih baik daripada nasi yang jika disimpan akan cepat basi, terlebih nasi bungkus yang didalamnya ada lauk sayur kuah.

Jadi, bukan SOTR yang salah. Namun perilaku pelaksana SOTR itulah yang menyebabkan SOTR dianggap sebelah mata orang masyarakat awam. Padahal niatnya berbagi. Niat yang sangat mulia. Namun, jangan-lah ketakutan terhadap adanya kemungkinan sikap Riya’ tersebut menghalangi kita untuk berbuat baik (SOTR). Lakukan saja asal itu kebaikan, jangan berfikir panjang, nanti malah nggak jadi berbuat baik. Siapa yang rugi?.

“Ketika kita hendak berbuat baik, pasti ada seratus kemungkinan buruk yang menyertainya. Tetapi, konsentrasi-lah pada satu niatan baik tersebut. Maka, engkau akan mendapatkan kebaikan. Tatkala hendak berbuat buruk, pasti ada seratus kemungkinan buruk yang menyertainya. Maka berkonsentrasilah pada seratus kemungkinan buruk tersebut. Maka engkau tidak akan mendapat keburukan.”


Sunday, 4 May 2014

Membincangkan Tuhan, Berani?

Posted By: Unknown - 1:07 am
Cuaca diluar ruangan sedang tak bersahabat. Hujan turun begitu lebat. Udara dingin terasa menembus mantel tebal motif kulit harimau. 

Didalam ruangan seluas pendopo rumah adat suku jawa, lima anak muda sedang berbincang ramah. Ditemani secangkir kopi hangat. 

Mereka saling membincangkan hal yang tak biasa diperbincangkan oleh orang biasa kebanyakan. Berapa orang yang berani membincangkan Tuhan?

Salah seorang mereka, sebut ia orang pertama. Berbadan kurus, berambut ikal hitam lebat melempar kata. “Tuhanku pasti melindungiku”.

Orang kedua, berbadan cukup gempal, memakai sweater hitam menanggapi, “Tuhanku juga”. 

Kemudian salah seorang dari mereka, anak muda usia 25 tahunan, orang ketiga, ia berkata, “Tuhan kalian beda, karena kalian beribadah dibeda tempat.”

Kemudian ia melempar tanya, “karena berbeda, bagaimana cara kalian melihat Tuhan? Apa pernah kalian menyentuhnya? sehingga kalian mempercayai-Nya”

Orang pertama dan kedua kemudian termenung.

Orang keempat, seorang mahasiswa ber-IPK cumlaude bingung dan hanya menggelengkan kepala. Hingga orang ketiga kembali menegaskan argumennya.

“kenapa kalian bingung? Kalau kalian belum pernah melihat Tuhan. Belum pernah menyentuh Tuhan. Bagaimana bisa kalian mempercayai sesuatu yang belum jelas wujudnya?”

Sejenak suasana menjadi sangat tegang.

Hingga orang kelima memberanikan diri mengeluarkan pendapat. Orang kelima sebenarnya pendiam, namun terkenal cerdas dan rajin dalam bekerja. Ia juga seorang visioner dan religius.

Kemudian ia menjawab dengan cara menanyai balik orang ketiga tersebut, “Saya belum pernah melihat otak anda. Saya juga belum pernah menyentuhnya. Apakah berarti otak anda itu tidak ada?”

Hening.

Semua terdiam dan merenung sejenak.

***



Renungkan.

Kita belum melihat dan menyentuh Tuhan bukan berarti tidak ada eksistensi Tuhan. Lantas bagaimana kita melihat dan bagaimana kita bisa meyakini eksistensi Tuhan?

Tuhan memberikan petunjuk kepada manusia. Ia berfirman, “tak mungkin bagimu untuk melihatKu”

Maka, lihat-lah alam sekitarmu. Tersebar banyak sekali keajaiban yang tak mungkin terjawab oleh manusia.

Contoh.

Firman Tuhan yang turun di suatu masa ketika orang bepergian dengan kuda dan unta. Belum ada semen, hanya tumpukan batu untuk membuat rumah. Saat itu Tuhan sudah mengabarkan suatu berita besar, yaitu tentang bagaimana manusia diciptakan.

Ia menjelaskan, bahwa manusia berasal dari air mani, menjadi segumpal darah. Kemudian ia menjadi segumpal daging. Lalu segumpal daging itu dijadikan tulang belulang. Dari tulang belulang itu kemudian dibungkus dengan daging dan akhirnya membentuk suatu makhluk yang baru.

Mikroskop saat itu belum ada, bahkan lensa-pun belum ada cikal bakal-nya. Bahkan, zat kimia untuk bahan obat modern belum terbersit dibenak praktisi kesehatan. Akan tetapi Tuhan telah menyampaikan suatu hal yang baru bisa di ketahui 1400 tahun setelahnya.

Itu baru satu ayat dalam satu surah. Belum lagi ribuan ayat dalam 114 surah lainnya. Seperti Planet dan benda langit yang beredar menurut garis edar. Dua laut yang berair asin dan tawar sehingga tak mungkin bersatu. Fenomena hujan yang berasal dari tumbukan awan. Fakta piramida mesir yang terbuat dari tanah liat yang dibakar. Sampai kepada penyelamatan jasad Fir’aun yang ditenggelamkan dilaut merah. Dan sejuta fakta lainnya.

Why we still deny? Ask your self. I’m sorry. I mean,,, my self.

sekian dan semoga bermanfaat.


Tuesday, 29 April 2014

Memanjakan Imajinasi dan Menegaskan Tindakan

Posted By: Unknown - 9:06 am

***

Imajinasi adalah suatu karunia. Seorang pemimpi tak akan mampu bekerja tanpa adanya suatu imajinasi. Dan seorang yang berhasil selalu diawali dengan predikat sebagai seorang pemimpi. Jadi, imajinasi adalah bibit dari sebuah kesuksesan.

Bak pisau yang memiliki sisi tajam dan tumpul, imajinasi mampu mengantarkan pemiliknya kepada kesuksesan ataupun kegagalan. Tergantung dari bagaimana memperlakukan imajinasi tersebut. Jika imajinasi mampu dibimbing dengan baik, akan menghasilkan sebuah ide cemerlang. Jika tidak, tentu yang terjadi adalah sebaliknya. Pelaku akan mendapati sebuah jurang kegagalan.

Jalan menuju kesuksesan memiliki rute yang jauh lebih panjang, terjal dan penuh rintangan. Selain memiliki imajinasi dan membimbing-nya menjadi suatu ide cemerlang, pelaku juga harus mampu melakukan suatu hal yang kita sebut tindakan. Apalah arti imajinasi dan ide cemerlang tanpa suatu tindakan? Nothing.

Maka, satu hal yang ingin saya sampaikan. Sekarang sudah banyak orang yang bosan dengan sumpah serapah janji manis nan menawan. Masyarakat rindu akan tangan yang turun langsung menjamah mereka. Tangan dan kaki penuh bercak kotoran bak pahlawan tanpa imbalan. 

Apapun dan bagaimana-pun imajinasi, mimpi dan angan-mu, jangan engkau simpan hingga terlupa oleh angin lalu. Wujudkan hal tersebut dengan melakukan hal kecil penuh makna. Berbagi hal kecil sebelum menjadi seorang dermawan dimata Tuhan. Memulai dari sesuap nasi sebelum menjadi segudang beras. Ibarat belajar sebelum menjadi pintar. Everything need the process.

Akhir kata. Imajinasi itu sangat indah. Dibalik keindahan-nya menyimpan sejuta tanya. Dan selamanya akan menjadi pertanyaan jika hanya tersimpan didalam angan. Namun akan terjawab tuntas usai menjadi suatu tindakan. Salam.


Wednesday, 23 April 2014

Memaknai Berbagi

Posted By: Unknown - 9:58 am

***

Berbagi…
Bukan sekedar memberi dengan tangan kanan dan berharap ucap terimakasih
Bukan hanya memberi sekadar apa yang mudah kita lepas, pun dengan apa yang sangat kita suka
Bukan juga memberi tanpa suatu kesan, namun harus membekas dalam sebuah ingatan

Berbagi…
Berbagi terasa indah saat dilakukan sendiri, karena rasa ikhlas begitu terasa dalam sanubari
Berbagi terasa ringan, saat langkah termotivasi oleh janji manis indahnya surga
Namun, Berbagi akan terasa jauh lebih indah jika dilakukan bersama, karena,
Ada sejuta senyum, canda, semangat, harapan dan mimpi dalam berbuat baik

Berbagi…
Saat kita melangkah setapak, akan meninggalkan satu jejak
Saat kita menapak beberapa langkah, banyak pasang mata menaruh rasa
Saat kita berkata “besok kita kasih tiga”, ada saja yang berkata, “kita kasih tiga puluh”

Berbagi itu Indah, walau definisi indah berbeda-beda

Tetapi yang jelas, berbagi jangan ditunggu beberapa saat,
Langsung kerjakan apa yang bisa kita kerjakan.
Ketika dada sesak dan langkah terasa berat, paksakanlah, itu lebih baik,
“Paksa saja raga kalian berbuat baik, daripada sukarela berbuat buruk”
Bukankah memaksakan diri masuk surga lebih mulia daripada sukarela masuk jurang neraka?





Sunday, 30 March 2014

Forum Akhlak Mulia

Posted By: Unknown - 9:27 pm
Assalaamu’alaikum Warrahmatullahi Wabbarakatuh

Uda nggak kerasa sudah menginjak semester delapan. Sebentar lagi bakal ada anak geodesi 2010 yang menerima toga wisuda di gedung Soedarto. Senang sekali rasanya. Mengumbar senyum bahagia bersama teman-teman seperjuangan. Terlebih ada dua makhluk bernama ayah dan ibu yang duduk menyaksikan, terkadang mereka menangis saking bangganya.

Mungkin semua orang tua akan bangga saat melihat anak mereka wisuda, mendapatkan kerjaan layak dan menjadi seorang yang sukses. Setiap bulan memberikan uang kiriman dan balik kampung membawa buah tangan mewah. Orang tua mana yang tidak bangga?, seakan mereka orang paling beruntung di dunia ini. Membesarkan anak dan berhasil memberikan pelajaran berharga akan nilai-nilai berbakti kepada orang tua.

Percayalah. Uang seberapapun nominal-nya nggak akan mampu menggantikan jasa dan kasih sayang mereka. Sembilan bulan mengandung, mau ngapa-ngapain susah, saking beratnya kadang ibu sampai berkeringat walau sekedar berjalan. Tapi, ia tak mengeluh sedikit-pun. Ayah, setia mendampingi ibu dalam susah dan senang. Bukan dirinya sendiri, ibu dan kita-lah yang ada dalam benak ayah saat bekerja. Sekeras apapun, ia sudah tentu bersiap badan.

Susah-kah menjadi anak yang baik? Tentu tidak. Tapi terkadang kita kurang peka terhadap apa yang orang tua kita inginkan. Terkadang kita lalai akan mendo’akan mereka dalam bait untaian do’a. Terkadang kita mengucap “ah” terhadap pinta-nya. Memang manusia makhluk yang tidak pandai bersyukur. Coba kalian jawab, sudahkah kita membahagiakan orang tua kita? Bukan nominal, jauh lebih berharga adalah akhlak (perilaku) terpuji dalam diri kita.



Banyak jalan untuk memperbaiki diri sendiri. Tetapi, tentu akan jauh lebih mudah jika itu kita lakukan secara bersama-sama. Karena demikian, kita akan saling mengingatkan satu sama lain. Saling menasihati. Dengan sebab itu pula, sudah saat-nya kita membuat forum akhlak mulia. Forum ini dikhususkan untuk teman satu angkatan yang beragama Islam. Karena pendekatan kami dari segi pendidikan moral agama.

Pertemuan perdana akan dilangsungkan hari Jum’at, 4 April 2014. Bertempat di masjid kampus Undip. Forum Akhlak Mulia bersifat semi formalitas, karena disini temen-temen bebas sharing sepuasnya. Seberapa-pun pesertanya, InshaAllah kita akan tetap berjalan. Pembicara adalah peserta itu sendiri. Untuk menjaga kualitas ilmu, kita akan membaca sebuah buku pegangan (sementara buku Shahih Bukhari).

“Bagi saya pribadi. Itu jauh lebih berharga daripada hanya berbincang tanpa ada kesan dan makna. Bercanda boleh, namun, jika berlebihan akan mematikan perasaan dan nurani kita. Hingga kita tak peduli dengan nasib orang disekitar kita.”

Kita sama-sama memiliki orang tua hebat. Itu pasti. Kita akan menjadi anak hebat (sholih) jika mampu membahagiakan mereka. Tak sekedar gelar sarjana, jabatan, dan nominal harta. Namun juga sikap dan perilaku kita yang terpuji dan jauh dari keburukan. Mari, sama-sama kita wujudkan mimpi itu di Forum Akhlak Mulia.

Semoga Allah SWT memudahkan setiap upaya makhluknya dalam meraih hidayah. Dan Allah akan memudahkan jalan kita menuju jalan kebaikan (surga). Aamiin.

Wallahu ‘alam. 


Sunday, 23 February 2014

Geodet Mengajar

Posted By: Unknown - 6:00 pm
Tanggal 10 November 2010, bertepatan dengan hari pahlawan, Anies Baswedan melepas pengajar muda angkatan pertama di bandara Soekarno-Hatta. Di bandara bernama bapak pendiri bangsa itulah, pemuda pemudi terbaik secara nyata memenuhi sebuah janji pengabdian. Melalui Indonesia Mengajar, pengajar muda berjuang selama satu tahun mendidik anak bangsa di berbagai pelosok nusantara.

Tak terasa empat tahun berlalu, sekarang pengajar muda angkatan ketujuh sudah mengabdikan diri di berbagai pelosok negeri. Mereka yang rela melepas pekerjaan, maupun yang baru selesai menempuh sarjana, sama saja. Hanya ketulusan dan kesadaran yang membawa mereka. “relawan tidak dinilai bukan karena tak berharga, namun tak ternilai” Anies Baswedan –Rektor termuda Indonesia–.

Mendidik adalah kewajiban setiap mereka yang terdidik. Sudah menjadi tanggung jawab kita dalam mencerdaskan seluruh anak bangsa, tanpa kecuali. Medan berat bukan halangan, namun tantangan yang hanya mampu dihadapi oleh mereka yang terpilih. Mereka adalah orang terdidik, dan orang terdidik itu adalah kita.

Beranjak dari semangat Indonesia Mengajar, sudah sewajarnya Geodet muda mampu memberikan lebih dari sekedar predikat orang terdidik. Saatnya kita memberikan sedikit dari apa yang telah kita miliki. Ilmu adalah suatu hal yang berharga, sekecil apapun itu, tapi ilmu akan menjaga diri kita. Masih ingat lagu bagimu negeri? Bagimu negeri kami mengabdi. Berhenti hanya berfikir, mulai dari sekarang saatnya kita bertindak nyata.

Kita harus mengajar ke daerah pelosok batang, pekalongan, atau kabupaten terpencil lainnya! Enggak. Ini bukan kuliah kerja nyata ya. Yang akan kita lakukan hanya simpel. Sesimpel berbagi nasi kah? Iya. Tak harus satu tahun kita mengabdi di daerah pelosok. Mungkin bisa kita mulai dari hal kecil. Kalau harus ada judul, mungkin akan berbunyi “Belajar Bersama”.

Apa itu “Belajar Bersama”?. Belajar bersama merupakan suatu kegiatan belajar bersama yang diikuti oleh beberapa anak-anak, bisa PAUD, SD, SMP, maupun SMA. Kegiatan berlangsung selama satu hari dalam satu minggu dan tempatnya pun menyesuaikan, bisa di rumah kades, lurah, balai desa, ataupun rumah warga yang memiliki space cukup luas. Disanalah Geodet Muda berperan laiknya Pengajar Muda dalam program Indonesia Mengajar.

Secara teknis semua bisa diatur. Karena kemudahan akan diberikan kepada mereka yang memiliki kemauan. Apalagi bernilai suatu kebaikan, bahkan, mungkin saja akan membuka kebaikan yang selama ini masih belum diperlihatkan oleh Tuhan yang maha Esa. Mari kita mulai secepatnya. Oke. Pertengahan bulan Maret mungkin bisa kita mulai. Sasaran bisa kita mulai dari sekitar Tembalang. Mengingat akses dan jarak yang tak terlampau jauh.

Hanya satu hari dalam satu minggu. Tiga jam dalam 168 jam waktu kita. Kita luangkan waktu rehat kita untuk menemani adik-adik manis yang masih semangat belajar. Hanya mengajar saja, tidak usah kita melihat IPK. Kadang tak hanya ilmu alam yang mereka butuhkan, ingat!, pemahaman mental dan emosi turut menentukan maju tidaknya sebuah generasi.


Tuhan tidak menciptakan kita untuk menjadi seorang Sarjana, itu hanya sarana kita untuk melakukan kebaikan, esensi dari diciptakannya kita oleh-Nya. Jadilah seperti Habibie, seorang ber-integritas di mata bangsa, murni karena ketulusan jiwa, bukan dibeli oleh kedudukan dan harta. Beliau juara rakyat, lebih dari sekedar peraih medali emas.

Dokumentasi Indonesia Mengajar

Saturday, 22 February 2014

Selagi Mampu Menyesal

Posted By: Unknown - 10:01 pm
Sebuah Renungan Islami.

Penyesalan memang menyakitkan. Itu aku rasakan setelah menerima kenyataan pertama kali mendapat nilai D sepanjang kuliah di kampus Geodesi Undip. Mau tak mau harus perbaikan di semester 9. Karena ada syarat yang tidak memperbolehkan sidang skripsi sebelum semua mata kuliah wajib diselesaikan, maka sidang hasil skripsi baru bisa aku lakukan di semester 10, lebih dua semester dari yang telah aku perkirakan.

Sebenernya segala usaha sudah ditempuh. Dosen sudah kita bujuk untuk memberikan remidi UAS ataupun nilai tugas. Hingga keinginan kami disampaikan saat sidang yudisium, pihak jurusan sepakat untuk menolak permohonan kami. Mendengar hal tersebut, lantas kami meminta maaf kepada orang tua kami masing-masing.

Sedih. Pasti. Menyerah. Tidak. Karena masih ada 1000 jalan menuju Roma. Masih ada kisah 1001 malam yang harus kita lewati. Jalan menuju kesuksesan bercabang begitu banyak, walau berujung pada satu tujuan. Buntu di salah satu jalan, melompat ke sisi yang lain. Dan setiap jalan memiliki keunikan kisah masing-masing.

Ingat!. Kita hanya perencana, sedang Tuhan adalah penentu. Yang menurut kita baik, belum tentu baik pula menurut-Nya. Tidak jarang, apa yang tidak kita sukai, justru itulah yang terbaik untuk kita. Selama matahari belum terbit dari barat dan nyawa masih menempel di kerongkongan, selama itu pula harapan akan tetap mengalir bersandingan disetiap usaha.

Yang sempat terbersit didalam benak saya adalah, bagaimana kalau penyesalan yang saya rasakan ini saya rasakan kembali di suatu masa ketika harapan itu tak lagi ada. Setiap kesempatan sudah kembali kepangkuan ilahi.  Hingga tak lagi tersisa, meskipun satu puing kesempatan.

Disana tiada tempat bernaung, tidak ada lagi tempat untuk berlari, apalagi bersembunyi, dan tak seorangpun mampu menolong kita. Sapi tak lagi menyusui anaknya, emas permata ditanggalkan, bahkan seorang istri tak lagi memikirkan suaminya. Semua orang sibuk terhadap urusan masing-masing.

Saat itu tak adalagi rerumputan hijau, padi menguning, bukit, bahkan gundukan tanah pun tak ada. Semuanya datar bak sebuah lembar kertas bercorak padang pasir yang terbentang jauh sepanjang mata memandang. Kata orang bijak, tempat itu bernama padang mahsyar. Tempat umat manusia pertama sampai terakhir dibangkitkan.

Nuh berkumpul dengan ummat satu bahtera, begitu pula dengan Ibrahim, dan Yakub beserta bani Israil, hingga sebuah bendera hijau milik Muhammad beserta ummatnya. Ketika nabi berseru kepada ummat, hanya mereka yang di dunia mengindahkan suara panggilan (baca: Adzan) yang mampu mendengar seruannya. Saat itulah semua yang kita lakukan didunia akan di tampakkan. Hanya mereka yang pandai menjaga aib orang lain semasa di dunia yang akan dijaga aibnya.

Saat itu tak ada lagi penangguhan. Kita sudah tidak ditanya tentang dosa kita, tapi langsung dibalas setimpal tanpa sedikitpun dirugikan, sebagaimana firmanNya dalam surah Ar-Rahman, surah ke 55. Yang kita dapati hanya yang telah kita usahakan di dunia. Bagaimana kita harus menghadapinya? Kalau jelek, apakah ada remidi? Jawabannya tentu tidak ada, karena di sana adalah akhirat, air mata tak ada guna.

Jika penyesalan di dunia saja sudah menyesakkan hati. Itupun masih ada harapan dan waktu serta kesempatan untuk memperbaikinya. Bagaimana kalau waktu kesempatan itu sudah ditutup? Tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali menerima apa yang telah kita usahakan. Oke kalau baik, kalau ternyata buruk? Tentu menjadi pertanyaan besar buat kita.

Jika tidak ingin menyesalinya, maka berfikir jernih lah mulai dari sekarang. Berfikir lah tentang kebaikan sepanjang umur singkat yang diberikan-Nya untuk kita. Bukan menakuti, hanya memperingatkan. Bukan mengarang, namun menyampaikan. Karena itu memang  benar adanya.

Harapan masih ada! Imam Mahdi masih kita tunggu kehadirannya, bukan untuk menindas kaum lain agama, namun hanya menegakkan kebenaran dibumi Allah. Tak ada paksaan dalam beragama, namun kebenaran perlu dipaksakan.

Tetap berfikir jernih! Dan begitu seterusnya!

Ingat! Berfikir jernih!

Berfikir jernih!

Jernih!

Jernih!


Jannah…


Jujur, Lima Huruf Sejuta Makna

Posted By: Unknown - 9:17 pm
Di hari sabtu pagi yang cukup cerah, aku duduk di sebuah bangku setinggi lutut. Kursi tersebut terbuat dari besi ringan dan beralaskan empuk berwarna hitam. Kursi itu dilengkapi dengan sebuah alas untuk menulis, teksturnya halus karena dilapisi triplek berwarna putih.

Aku duduk agak di belakang, empat dari belakang dan dua dari kiri. Samping kiriku duduk Ener, sebelah kanan Tyo, depan ada Vauzul dan belakang ada Novita –kalau nggak salah–. Kita sedang mengikuti ujian mata kuliah Geofis saat itu.

Kurasakan dahiku mulai berkeringat, perasaan menjadi gusar, sedang hatiku bergejolak tajam. Setan dan malaikat tak ubah seorang penjual yang menjajahkan barang dagangan disampingku. Semua hal menyenangkan dari kebaikan dan keburukan sudah terbayang di benakku.

Malaikat berkata, “Jangan kamu bertanya. Jujur itu lebih gentle –kece– dari pada curang,”

Iblis tak mau kalah, dengan sigap ia berbalas kata, “Kalau sedikit mah gapapa, daripada kamu nanti dapet nilai jelek! Mau?”. Kurasakan syaraf menuntunku membelokkan mata ke kanan dan ke kiri.

“Jangan lah tun, di peraturan kan nggak dibolehkan bekerja sama, walau kamu sudah tidak lagi menyontek, tapi bekerjasama dalam suatu “kejahatan” kan tidak baik juga, masuk kategori dosa malahan.” Malaikat kembali menawarkan janji kebaikan.

Iblis mengebiri dan mempertegas “Aduuh, nggak papa lah, kan nggak sering – sering juga. Dari pada kamu nanti dapat D!”

Segera aku putuskan, aku memang tak pernah lagi menyontek, tapi godaan untuk sekedar memasang telinga berharap ada yang berbicara sedikit keras perihal jawaban tak mampu aku elak. Sesekali mata melirik ke kanan, kiri dan samping, walau tak bertanya jawaban secara langsung, tapi niat tetap ada.

Beberapa waktu kemudian, nilai D muncul di kolom nilai hasil studi semester tujuh. Beberapa hal menjadi catatan tersendiri dalam hidupku. Pertama, jika kita mau berkeringat saat persiapan, tentu kita tak perlu berdarah-darah saat pertandingan. Kedua, sekecil apapun, keburukan pasti akan kembali kepada pelakunya. Ketiga, kejujuran adalah sebuah nilai yang teramat mahal, bukan hanya karena efek terhadap pelakunya, tetapi karena sangat sukar juga diperolehnya. Keempat, penyesalan memang menyakitkan.

Perempuan Tanpa Nominal

Bicara kejujuran membawa ingatan saya kembali ke sebuah memori hampir empat tahun silam. Waktu yang cukup lama untuk memahami suatu perkara, namun selamanya akan tetap terpatri dalam sanubari. Saat itu kami sedang merayakan kelulusan ujian nasional SMA N 3 Boyolali, sekolah masa remaja saya. Namun masih ada yang kurang kami rasakan, saat itu, ada satu teman kami yang belum beruntung (baca: tidak lulus) dan harus mengikuti ujian nasional susulan.

Kelas IPA II sebagai kelas murid berpredikat 1, 2 dan 3 besar tak seramai kelas lainnya. Kita tak mungkin bersuka ria tatkala masih ada teman yang masih tertinggal. Semangat dan do’a terus kita berikan, walau sekadar untaian kata semangat kita untuk dia yang masih harus berjuang lagi.

Kabar burung yang mengemuka mengatakan, bahwa ia belum bisa lulus karena saat ujian sedang berlangsung, saat semua teman menoleh kesemua arah, berbisik, menunggu sms jawaban dari bocoran soal, entah mereka yang masuk kategori pemalas atau rajin sekalipun, hal berbeda justru ia lakukan. Tak sekalipun ia bergeming memalingkan muka dari lembar soal dan jawaban miliknya.

Ia adalah cucu dari guru agama di SMA kami. Tangan hangat beliau-lah yang mendidiknya menjadi pribadi yang taat, terutama taat kepada Tuhan yang maha Esa, dan semua itu tercermin dalam ketaatannya kepada orang tua, guru, bahkan terhadap peraturan hukum yang berlaku. Jika memang di dalam ujian dilarang bekerjasama, tak sekalipun ia melanggarnya.

Walau semua yang ia lakukan berbuntut panjang, ia tetap memilih jalan kejujuran, walau ia sendirian, ia tak mengkuti semua orang, walau terkesan “aneh”. Saya saat itupun berfikiran sama, “aneh”. Perlu sekedar pemahaman nilai kebaikan agama untuk melakukannya. Mereka yang berani melakukannya bukan hanya membaca, namun memahami dan menanamkannya dengan hati – hati di tiap langkah yang ia tapaki.
Sungguh wanita “aneh” yang banyak dicari, dipuji, dan dikagumi, bukan oleh kebanyakan manusia saat ini, tetapi oleh Dia dan manusia yang banyak berbuat kebaikan. 

Ia termasuk sebaik – baik golongan wanita. Do’a untuk dirinya, semoga menjadi jauh lebih baik lagi saat ini, dipertemukan dengan penunjuk jalan yang baik pula, walau sudah jarang berjumpa, namun teman selamanya teman, kalau berjumpa Alhamdulillah, semoga kita masih bisa saling berucap “salam”, baik di surga dunia maupun akhirat. Aamiin.




     

Sunday, 9 February 2014

Kenapa kita harus Turun Tangan?

Posted By: Unknown - 9:46 pm
Saya seperti mahasiswa kebanyakan. Sedih tiap lihat televisi hanya berisikan berita kasus korupsi yang dilakukan oleh beberapa wakil rakyat. Mereka yang seharusnya menjadi perwakilan aspirasi, keinginan dan hak kita, malah berlaku seperti maling yang tak berperasaan. Sudah terlampau banyak rupiah yang mereka rampas.

Saya juga seperti mahasiswa kebanyakan. Hanya mampu mengutuk mereka dan berdiam diri, sekedar membincang dan mencaci mereka bersama kawan sejawat. Dan bisa ditebak, hanya berujung caci maki tak bertuan, sedang yang bersangkutan tak mungkin mendengar. Lebih parah, hal itu tak mengubah korupsi sedikitpun.

Mulai dari itu, sedikit waktu saya berfikir. Cukup kah hanya diam saja? Mencaci maki dan bersumpah serapah?, tentu tidak. Perlu sedikit gerakan untuk menggeser posisi sebuah meja, pun dengan korupsi, perlu sedikit gerakan untuk menggesernya, atau bahkan menyingkirkan-nya.

Awalnya saya mulai dari diri sendiri, karena ada orang bijak berkata, jika kita mampu mengubah diri kita menjadi jauh lebih baik, maka secara bersamaan kita telah mengubah sebuah masyarakat –negara– untuk menjadi lebih baik. 

Saya memulai dengan menghilangkan kata mencontek atau kerjasama ketika ujian. Mengurangi kebiasaan titip absen ketika ada jadwal kuliah. Mengerjakan tugas kelompok sesuai bagian saya. Sampai perihal waktu keberangkatan, sebisa mungkin mendahului dosen sampai di kelas.

Namun, saya rasa masih ada banyak hal yang kurang selama ini. Rasa-rasanya kok nggak adil kalau hal ini hanya dilakukan oleh segelintir mahasiswa. Bagaimana bisa mengubah sebuah negara besar jika kebaikan tak dirasakan oleh semua orang?. Aku baru teringat,

“Kebaikan yang tak terorganisasi, akan terkalahkan oleh kejahatan yang terorganisasi. Walaupun kita semua tahu, bahwa kebaikan pasti akan mengalahkan kejahahatan. Maka, sebaik-baik kebaikan adalah yang terorganisasi dengan baik.”

Sudah saatnya kita mewadahkan kebaikan tersebut kedalam suatu wadah pergerakan yang mampu mengajak orang untuk bersama – sama memperbaiki diri dan negara. Bersama-sama menghilangkan hobi korupsi dari benak anak bangsa. Dan sampai saat ini, pilihan saya jatuh kepada Turun Tangan.

Kenapa Turun Tangan?

Turun Tangan tak hanya mengajak kita untuk sekedar berfikir, namun mengajak kita untuk turun langsung menghadapi berbagai masalah yang sedang dialami bangsa kita, termasuk korupsi. Sekarang bukan saatnya kita hanya berdiam diri!

Berikut ada beberapa poin mengenai Turun Tangan :

Non profit. Ya, Turun tangan bersifat sukarela, tak ada iuran wajib diantara para relawan. Donatur pun bersifat individual orang yang peduli dengan turun tangan dan nasib bangsa, bukan institusi yang mengharapkan timbal balik dibelakangnya.

Profesional. Komunitas Turun Tangan memiliki kantor pusat di Jakarta dan beberapa koordinator wilayah - korwil -di tiap kota besar di Indonesia. Jadi, secara jaringan mereka sudah profesional. Mereka juga memiliki pusat layanan informasi mandiri dan media penyebar semangat turun tangan.

Variatif. Kegiatan yang diadakan oleh komunitas Turun Tangan sangat beragam, kita tak terbatas oleh isu tertentu, misal pangan, kesehatan, pendidikan, dan lainnya. Jadi bagi kalian yang punya bakat apapun bisa gabung ke kita, hanya saja, ada satu syarat mutlak, kalian peduli dan mau meng-“Hadapi” apapun tantangan kita didepan.

Bukan alat politik. Turun Tangan memang identik dengan seorang Anies Baswedan –salah satu peserta konvensi partai Demokrat– yang juga penggagas gerakan Indonesia Mengajar (IM). Faktanya, Anies turut mencantumkan nama Turun Tangan.

Ini sebuah pertanyaan besar. Sudah dari awal saya katakana dalam hati, saya akan berpartisipasi dalam kegiatan sosial, bukan politik. “karena saya mengagumi Anies bukan dalam kapasitas sebagai politisi, namun tokoh pendidikan”. Jawaban yang saya cari akhirnya terjawab saat acara pembekalan relawan oleh tim Turun Tangan pusat kepada seluruh relawan Turun Tangan Semarang di hari sabtu, 8 Februari 2014.

Mbak Juwita –anggota Turun Tangan pusat– bercerita, jika Turun Tangan telah ada sebelum Anies Baswedan diundang sebagai salah satu peserta konvensi. Dan Anies Baswedan merupakan salah satu penggagasnya. Jadi, Turun Tangan bukan produk maupun alat politik dalam rangka pencalonan Anies Baswedan.

Namun, mengapa Anies Baswedan mencantumkan nama Turun Tangan dalam agenda promosi integritas?. Turun Tangan menjawab, “kita hanya mendukung orang baik, dan pak Anies merupakan orang baik. Selama pak Anies Baswedan baik, kami akan selalu mendukungnya. Karena yang terpenting adalah tercapainya cita-cita kita, Indonesia yang lebih baik”.

Owh gitu ya. Sekarang saya bertanya, BAIK-nya seorang Anies Baswedan itu seperti apa?. Ternyata banyak, yang paling saya suka diluar penggagas Indonesia Mengajar dan Rektor termuda di Indonesia, saya lebih kagum pada sifat kejujuran Anies Baswedan.

Sejauh ini dia masih bebas korupsi. Lahir di dalam keluarga bersih dan berpendidikan menjadikan Anies Baswedan seorang yang bersikap jujur. Dia juga dijadikan sebagai ketua komite KPK saat menghadapi prahara cicak vs buaya. Tentu KPK –lembaga anti korupsi– lebih mengtahui integritas “kebersihan” seseorang. Dan Anies Baswedan terpilih sebagai ketua, mengepalai orang-orang hebat yang usianya jauh diatas-nya.

Dan satu hal yang membuat saya lega. Ketika tim Turun Tangan pusat berkata, “jika Anies Baswedan kalah. Maka Turun Tangan akan tetap ada, bukan bergantung pada hasil perhitungan suara. Karena pada dasarnya kita mendukung orang baik, maka kita akan tetap mendukung Anies Baswedan, selama dia menjadi orang baik.

Sekarang, saya hanya bisa berkata, 

“Saya bukan pendukung Anies Baswedan, tetapi saya pendukung orang baik. Selama Anies Baswedan baik, maka saya akan mendukungnya.”

"Sekarang saatnya kita (T)urun (T)angan, bukan sekedar urun angan."

Semoga bermanfaat.








Sunday, 2 February 2014

Ini Alasan Konflik di Timur Tengah

Posted By: Unknown - 10:33 am
Siang cukup terik di Tembalang pada hari itu. Seorang anak muda berbadan tinggi agak kurus berjalan bersama seorang warga negara Libya bernama Wanis. Kaki Wanis dan Randy melangkah di sepanjang jalan trotoar kampus. Gerak verbal tubuh mereka mengisyaratkan pembicaraan yang cukup serius.

Didepan mereka ada seorang perempuan berdiri di pinggir jalan depan gedung dekanat fakultas teknik, ia terlihat tengah menunggu angkot. Ia berdiri tepat disamping rambu berbentuk lingkaran dan berwarna kuning, bertanda huruf s dengan sebuah garis hitam menyilang. Tanda tak seorangpun boleh berhenti di area tersebut.

Melihat hal tersebut. Wanis, langsung menghampiri dan menegur-nya. “What are you doing here. Can you see this (rambu)?.” Bla bla bla. Panjang lebar Wanis menasihati perempuan tersebut. Intinya, ia menasehati perempuan tersebut agar melihat tanda rambu dilarang berhenti dan lebih patuh pada peraturan yang berlaku.

Perempuan itu hanya diam dan sedikit ketakutan. Ia sangat faham maksud gerak tangan Wanis, namun tidak memahami kesemua perkataan-nya. Dengan perasaan kesal, Wanis meninggalkan Randy dan perempuan tersebut.

Sementara itu, Randy yang cukup mengerti bahasa Inggris,  mencoba menerjemahkan apa yang dikatakan oleh Wanis. Randy dan perempuan tersebut memulai pembicaraan. Cukup panjang lebar Randy menjelaskan hal tersebut.

Tak diduga oleh Randy sebelumnya, Wanis yang sudah berjalan dahulu tiba-tiba kembali dan malah berbalik memarahinya. Seketika ia terkejut dan kaget. Berfikir ia dalam hati, “kenapa dia marah-marah?”. Randy masih saja bingung.

Sejenak Randy menenangkan fikiran. Perlahan ia mulai memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Rupanya, Wanis mengira jika Randy yang sedari tadi berbicara panjang lebar dengan perempuan tersebut, dengan bahasa yang tak dimengerti oleh Wanis tentunya, yang sebenarnya bermaksud untuk menerjemahkan nasehat-nya, malah dianggap sedang membicarakan diri-nya dibelakang.

Sebagai seorang muslim, Wanis tentu paham kalau membicarakan orang lain itu dosa. Namun, Wanis terlalu terburu-buru untuk mengambil kesimpulan jika Randy dan perempuan tersebut tengah membicarakan diri-nya. Padahal Randy hanya ingin menyampaikan nasehat bijak Wanis kepada perempuan tersebut, agar lebih mudah dipahami.

Randy hanya berfikir dalam hati “semua ini salah paham. enggak ada yang salah. mungkin tak ada yang salah juga dalam konflik di timur tengah. semua-nya hanya salah paham. hanya kurang komunikasi dan musyawarah mufakat.”



Monday, 27 January 2014

Wajah WIN-HT di Bantuan Pemirsa

Posted By: Unknown - 9:00 pm
Bakal calon pilpres 2014, WIN-HT, kembali membuat kita tercengang. Bukan lagi perkara kuis dadakan pendongkrak elektabilitas –kuis kebangsaan dan kuis Indonesia cerdas– yang mungkin akan hilang usai pilpres mendatang. Kali ini mereka berbuat “nakal” disaat Indonesia tengah mengalami darurat bencana banjir.

Saat tim RCTI melakukan santunan ke para pengungsi di salah satu daerah bencana, mereka mencantumkan logo, tagline dan gambar WIN-HT. Jangan kaget, memang begitu wajah perpolitikan di Indonesia, tak cerdas sama sekali.

Kesalahan pertama adalah mereka melakukan kampanye saat masa kampanye belum mulai. Bahkan disaat daftar pemilih tetap belum selesai ditetapkan oleh KPU. Secara aturan, mereka telah mencuri start.

Mungkin tak menjadi soal jika seorang penjaga toko pulang setengah jam lebih awal dari jadwal, mungkin hanya pemilik toko yang rugi, kalaupun ketahuan paling dipecat. Akan tapi, menjadi sebuah kesalahan fatal jika yang “maling waktu” adalah pasangan bakal calon pemimpin.

Kedua, barang yang mereka bagikan adalah bantuan “PEMIRSA RCTI”. #hahhh. Jangan kaget. Emang itu fakta-nya. Dana bantuan korban bencana banjir dari masyarakat seluruh Indonesia yang digalang oleh RCTI telah mereka manfaatkan untuk kepentingan politik.

Entah apa yang ada di benak tim sukses mereka. Dengan tega-nya mereka membodohi masyarakat Indonesia. Dengan embel-embel dana bantuan bencana, mereka menciderai ketulusan dan kepercayaan masyarakat. Sungguh, pengkhianatan yang memilukan.

Secara pengalaman, Hary Tanoe memang sudah berpengalaman. Tentu perekonomian Indonesia akan stabil di tangan-nya. Melihat apa yang sudah ia lakukan saat ini, rasa-rasa-nya bakalan tak jauh berbeda dari Sri Mulyani dan Budiyono. Memang mereka pintar, tapi sayang, bukan untuk mensejahterakan masyarakat.

Figur Wiranto juga masih perlu pembuktian. Survey dari beberapa LSM masih kurang memihak kepada sang jendral purnawirawan. Elektabilitas Wiranto masih dibawah tokoh berpengaruh laiknya Jusuf Kalla, Dahlan Iskan, Mahfud MD, atau bahkan anak bau kencur, Abraham Samad, sekalipun.

Perlu lebih dari sekedar ilmu dan pengalaman untuk menjadi seorang pemimpin. Pembuktian kapasitas ketika ia diberikan kepercayaan oleh negara adalah salah satu sudut pandang penilaian masyarakat. Dan yang paling penting, seberapa besar kepentingan masyarakat yang tercermin dalam setiap keputusan yang ia buat.


Oh pemimpin.

Wednesday, 22 January 2014

Dua Langkah Agar Loe Ganteng Maksimal!

Posted By: Unknown - 9:08 pm
-perhatian : yang nggak terima kalau penulis ganteng, boleh stop baca disini-

Hallooo sahabat. Kali ini mau sedikit sharing tentang bagaimana caranya agar loe bisa ganteng maksimal. Tapi bukan ganteng maksimal kayak yang di ajarin sama Ariel Noah yang menggunakan pembersih dan pencerah, bukan juga cara instant macam foto selfie dan masuk dapur photoshop. Ini cara lama, namun banyak yang nggak tahu.



Cara ini tergolong konvensional, namun mujarab. Sebelum masuk kedalam tips, kita harus paham apa definisi ganteng itu sendiri. Ganteng adalah kondisi dimana kita memiliki sesuatu hal yang menarik perhatian orang lain dan ter-khususkan kepada muka.

Seseorang dikatakan ganteng apabila memiliki wajah yang bersih dan bersinar, secara fisik hal tersebut bisa kalian peroleh dengan membersihkan wajah setiap kali mandi dan sebelum tidur dengan pembersih wajah kepercayaan. Secara fisik anda resmi ganteng.

Tak hanya fisik, ganteng juga dateng dari aura yang terpancar. Seseorang yang terlahir dengan muka elok dan tiap hari dirawat, kadang masih terkalahkan oleh mereka yang memiliki aura tersendiri. Aura itu akan muncul ketika hati, fikiran, mental dan jiwa kita positif.

Kalau ganteng fisik bisa kita rawat dengan sabun muka, bagaimana dengan ganteng dari aura tersebut?

Gampang. Kita adalah makhluk beragama, kembalilah kepada agama kita. Agama mampu menenangkan hati, fikiran, mental dan jiwa agar senantiasa positif. Membaca kitab suci secara berkala terbukti mampu mengeluarkan aura positif dalam diri kita.

Resep Ganteng Maksimal :(Sabun muka dan Al Qur'an)

Jadi, jika aura mampu mengalahkan kegantengan fisik. Sedang ganteng fisik juga kita usahakan. Apa jadinya jika kita mampu menjaga kegantengan fisik dan aura tersebut? Tentu level ganteng kita akan mencapai maksimal. Alhamdulillah.

Haha, hanya sedikit bercanda, walau sebenernya seriusan.


Copyright © 2013 Ghostwriter™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.